Iran Vs Amerika Memanas
Bursa Iran Dibuka Lagi dengan Pembatasan Ketat usai 80 Hari Perang, Inflasi Tembus 70 Persen
Inflasi Iran melampaui 70 persen saat Bursa Teheran kembali dibuka usai tutup 80 hari akibat perang dan sanksi AS.
Ringkasan Berita:
- Iran kembali membuka Bursa Efek Teheran setelah ditutup hampir 80 hari akibat perang dengan AS dan Israel.
- Pembukaan dilakukan secara terbatas di tengah inflasi yang menembus 70 persen, kerusakan industri besar, serta tekanan sanksi dan blokade ekonomi.
- Pemerintah Iran kini menghadapi tekanan besar untuk menjaga stabilitas pasar dan mencegah kepanikan investor.
TRIBUNNEWS.COM - Iran kembali membuka Bursa Efek Teheran setelah hampir tiga bulan ditutup akibat perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pembukaan kembali pasar dilakukan secara terbatas dengan pengawasan ketat pemerintah di tengah tekanan ekonomi yang terus memburuk.
Dilansir Al Jazeera, perdagangan kembali dimulai setelah penutupan sekitar 80 hari, yang menjadi penghentian pasar saham terlama dalam sejarah Iran modern.
Di saat bersamaan, inflasi Iran dilaporkan telah melampaui 70 persen pada akhir April 2026.
Lonjakan harga terjadi di tengah sanksi internasional, blokade pelabuhan, dan kerusakan industri besar akibat perang.
Bursa Dibuka dengan Pembatasan Ketat
Pemerintah Iran menerapkan berbagai pembatasan untuk mencegah kepanikan investor dan tekanan jual besar-besaran.
Sebanyak 42 perusahaan besar yang mewakili sekitar 36 persen pasar saham masih ditangguhkan dari perdagangan.
Baca juga: AS Tutup Selat Hormuz, IHSG Dibuka Melemah, Bursa Saham Asia Loyo
Perusahaan yang belum dibuka kembali mayoritas berasal dari sektor baja, petrokimia, utilitas, dan infrastruktur strategis.
Wakil pengawas Organisasi Sekuritas dan Bursa Iran (SEO), Hamid Yari, mengatakan langkah itu diambil untuk menjaga stabilitas pasar.
“Tujuannya adalah mencegah tekanan jual tambahan dan mendukung pasar,” ujar Hamid Yari seperti dikutip media pemerintah Iran.
Times of Israel melaporkan sejumlah saham juga dibatasi hanya boleh bergerak naik atau turun maksimal tiga persen per hari.
Investor institusional dan sejumlah reksa dana leverage disebut turut dibatasi dalam melakukan transaksi besar.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya pemerintah menjaga indeks utama TEDPIX agar tidak anjlok setelah pasar dibuka kembali.
Inflasi dan Pelemahan Rial Tekan Ekonomi
Ekonom Mehdi Haghbaali mengatakan kondisi ekonomi Iran sebenarnya sudah rapuh bahkan sebelum perang pecah.
Menurutnya, inflasi tinggi dan pelemahan tajam nilai rial Iran terhadap dolar AS semakin memperburuk tekanan terhadap dunia usaha.
“Perdagangan telah terganggu secara parah, eksportir akan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan operasi,” kata Haghbaali kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa inflasi yang meningkat akan semakin menghambat penciptaan nilai riil perusahaan.
Baca juga: Bursa Saham Dunia Anjlok, Harga Minyak Meroket, Pasar Khawatirkan Pasokan
Sektor-sektor utama Iran kini menghadapi gangguan perdagangan, hambatan ekspor, serta ketidakpastian produksi.
Harga barang kebutuhan pokok juga terus melonjak di berbagai wilayah Iran.
Pemerintah disebut hanya mampu memberikan subsidi terbatas dan kupon elektronik untuk membantu masyarakat menghadapi lonjakan harga.
Dilansir Iran International, inflasi mendekati tiga digit telah menggerus daya beli masyarakat dan memperumit stabilitas pasar keuangan.
Kerusakan Industri Masih Dirahasiakan
Banyak perusahaan besar Iran disebut belum mengungkap tingkat kerusakan fasilitas produksi mereka akibat perang.
Sejumlah pabrik baja dan petrokimia terbesar Iran dilaporkan menjadi target serangan selama konflik berlangsung.
Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai besaran kerugian, kapasitas produksi, maupun jadwal pemulihan industri.
Analis menilai kurangnya transparansi tersebut membuat investor sulit menghitung risiko sebenarnya di pasar Iran.
Iran International melaporkan pembukaan kembali bursa lebih mencerminkan “stabilisasi terkendali” dibanding pemulihan kepercayaan investor secara penuh.
Harapan pada Diplomasi AS-Iran
Di tengah tekanan ekonomi yang memburuk, harapan kini tertuju pada kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Teheran masih meninjau proposal perdamaian AS yang disampaikan melalui mediator Pakistan.
Baca juga: Trump Klaim Proposal Damai AS-Iran Masuk Tahap Akhir, Tapi Ancaman Perang Besar Masih Mengintai
Haghbaali menilai masa depan ekonomi Iran sangat bergantung pada hasil negosiasi tersebut.
“Tentu saja, perjanjian perdamaian antara AS dan Iran dapat secara fundamental mengubah prospek dan meningkatkan ekspektasi pasar,” ujarnya.
Tanpa terobosan diplomatik, Iran diperkirakan masih akan menghadapi tekanan inflasi tinggi, lemahnya investasi, dan ancaman krisis ekonomi berkepanjangan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.