Konflik Rusia Vs Ukraina
Putin dan Xi Jinping Sepakati Power of Siberia 2, Peta Energi Dunia Terancam Berubah
Rusia dan China dorong proyek pipa gas raksasa Power of Siberia 2 di tengah krisis energi global dan perang Iran.
Perang AS-Iran yang memicu gangguan di Selat Hormuz disebut memperkuat kekhawatiran Beijing terhadap keamanan pasokan energi.
“Gangguan di Selat Hormuz menunjukkan pentingnya jalur pipa sebagai penyangga terhadap guncangan maritim,” kata analis Oxford Institute for Energy Studies, Michal Meidan, kepada The Moscow Times.
China juga disebut ingin mengurangi ketergantungan terhadap pasar energi Barat dan rantai pasokan global yang rentan terganggu konflik.
Baca juga: Vladimir Putin Bertemu Xi Jinping di Beijing
Negosiasi Harga Masih Jadi Hambatan
Meski terlihat semakin dekat, proyek Power of Siberia 2 masih menghadapi hambatan besar terkait harga gas.
CNBC melaporkan Beijing meminta harga gas mendekati tarif domestik Rusia sekitar 120-130 dolar AS per 1.000 meter kubik.
Sementara Moskow menginginkan harga lebih tinggi seperti skema Power of Siberia 1.
CEO Energy Flux, Seb Kennedy, menyebut pembahasan “parameter utama” yang diumumkan Kremlin sebenarnya masih kode diplomatik bahwa negosiasi harga belum selesai.
“Semua daya tawar saat ini ada di pihak China karena Gazprom tidak punya banyak alternatif pembeli lain,” katanya kepada The Moscow Times.
Analis Kpler, Go Katayama, juga menilai Rusia berada dalam posisi lemah setelah kehilangan pasar Eropa.
“China memahami Rusia sangat membutuhkan kontrak ekspor jangka panjang,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Peta Energi Dunia Bisa Berubah
Analis menilai jika proyek ini terealisasi, Power of Siberia 2 akan mengubah arus perdagangan energi global.
Gas Rusia yang sebelumnya mengalir ke Eropa akan dipindahkan ke Asia secara permanen.
Kpler memperkirakan proyek ini juga dapat mengurangi impor LNG China dalam jumlah besar dan menekan harga LNG global dalam jangka panjang.
“Setiap meter kubik gas yang masuk lewat pipa berarti China tidak perlu lagi mengimpor LNG melalui laut,” kata Seb Kennedy.
Selain faktor energi, proyek ini juga dinilai memperkuat poros geopolitik Rusia-China di tengah rivalitas dengan Barat.
Baca juga: Xi Jinping Main Dua Kaki: Setelah Trump, Kini Putin Datang ke Beijing, Rusia-China Kian Dekat?