Konflik Rusia Vs Ukraina
Putin dan Xi Jinping Sepakati Power of Siberia 2, Peta Energi Dunia Terancam Berubah
Rusia dan China dorong proyek pipa gas raksasa Power of Siberia 2 di tengah krisis energi global dan perang Iran.
Ringkasan Berita:
- Rusia dan China mempercepat pembahasan proyek pipa gas raksasa Power of Siberia 2 di tengah perang Iran dan krisis energi global.
- Proyek ini diproyeksikan mengalirkan 50 miliar meter kubik gas Rusia ke China setiap tahun melalui Mongolia.
- Jalur energi baru itu dinilai bisa mengubah peta geopolitik energi dunia sekaligus memperkuat poros ekonomi Moskow-Beijing.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden China, Xi Jinping mulai mempercepat proyek pipa gas raksasa Power of Siberia 2 (POS-2) di tengah krisis energi global dan perang Iran yang mengguncang jalur distribusi energi dunia.
Dilansir Al Jazeera, Kamis (21/5/2026), proyek sepanjang 2.600 kilometer itu akan mengalirkan gas Rusia dari Siberia Barat menuju China melalui Mongolia.
Kapasitasnya diperkirakan mencapai 50 miliar meter kubik per tahun atau hampir menyamai jalur Nord Stream 1 yang dulu menjadi tulang punggung ekspor gas Rusia ke Eropa.
Kremlin menyebut Rusia dan China kini sudah mencapai “pemahaman bersama” mengenai parameter utama proyek tersebut.
“Ada kesepakatan mengenai rute dan bagaimana proyek ini akan dibangun,” ujar juru bicara Kremlin Dmitry Peskov seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA Novosti.
Namun, hingga kini kedua negara masih berselisih soal harga gas, skema pembiayaan, dan jadwal pembangunan.
Rusia Cari Pengganti Pasar Eropa
Power of Siberia 2 menjadi proyek vital bagi Moskow setelah ekspor gas Rusia ke Eropa runtuh sejak invasi Ukraina tahun 2022.
Baca juga: Bertemu Xi Jinping di Beijing, Putin Sebut Rusia dan China Harus Melawan Semua Bentuk Bullying
The Moscow Times melaporkan ekspor gas Rusia ke Uni Eropa anjlok dari 157 miliar meter kubik menjadi hanya sekitar 18 miliar meter kubik per tahun.
Kondisi itu memukul pendapatan Gazprom dan memaksa Rusia mencari pasar baru di Asia.
Analis Oxford Institute for Energy Studies, Jack Sharples, mengatakan proyek ini dapat membantu Rusia mengganti sebagian besar kehilangan pasar Eropa.
“Bagi Rusia, proyek ini bukan hanya soal penjualan gas, tetapi juga menjaga industri baja, konstruksi pipa, dan ekonomi energi tetap hidup,” katanya kepada Al Jazeera.
Dikutip dari CNBC, China kini menjadi pembeli energi terbesar Rusia dengan lonjakan impor minyak Rusia mencapai 35 persen sepanjang kuartal pertama 2026.
China Ingin Jalur Energi Aman
Di sisi lain, China melihat POS-2 sebagai jalur energi alternatif yang lebih aman dibanding impor LNG melalui laut.
Sebagian besar pasokan LNG China saat ini melewati Selat Hormuz dan Selat Malaka yang rawan konflik geopolitik.