Jumat, 22 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Perang Iran Hari ke-83: Teheran Tinjau Proposal Damai AS, Ancam Buka Front Baru jika Diserang Lagi

Iran meninjau respons damai AS sambil memperketat Hormuz, Trump beri ultimatum baru dan konflik regional meluas.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Perang Iran memasuki hari ke-83 di tengah proses peninjauan proposal damai terbaru Amerika Serikat melalui mediator Pakistan.
  • Iran tetap membuka jalur diplomasi, namun memperingatkan akan membuka “front baru” bila kembali diserang.
  • Ketegangan juga meningkat di Selat Hormuz, Lebanon, hingga Israel seiring ancaman krisis energi global.

 

TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran memasuki hari ke-83 pada Kamis (21/5/2026) di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik dan militer antara Teheran dan Amerika Serikat (AS).

Iran menyatakan, masih meninjau respons terbaru Washington terhadap proposal perdamaian yang sebelumnya diajukan Teheran melalui mediator Pakistan.

Dilansir Al Jazeera, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut, jalur diplomasi dengan AS “masih terbuka”, meski ancaman perang baru terus membayangi kawasan Timur Tengah.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah pada tekanan militer maupun ekonomi dari Washington.

“Semua jalan menuju solusi diplomatik tetap terbuka dari pihak kami,” ujar Pezeshkian seperti dikutip media pemerintah Iran.

Namun ia memperingatkan bahwa upaya memaksa Iran tunduk melalui ancaman “tidak lain hanyalah ilusi”.

Iran Tinjau Respons Proposal AS

Kantor berita ISNA melaporkan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dijadwalkan mengunjungi Teheran sebagai bagian dari upaya mediasi yang masih berlangsung antara Iran dan AS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran sedang mempelajari respons terbaru Washington terhadap kerangka gencatan senjata yang diajukan Iran.

Baca juga: Iran Bentuk Zona Kontrol Maritim Baru di Selat Hormuz, IRGC Bantu Amankan, Kapal Asing Harus Patuh

Menurut Nour News Agency, pembicaraan tersebut didasarkan pada proposal “14 poin” milik Iran yang sebelumnya diajukan kepada AS.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Washington masih berupaya memicu perang baru.

“Pergerakan musuh menunjukkan mereka belum meninggalkan tujuan militer mereka dan berupaya memulai perang baru,” kata Ghalibaf dalam pesan audio yang dipublikasikan di situs resminya.

Trump Beri Ultimatum Baru

Sementara itu, Gedung Putih kembali memperingatkan Iran agar menerima kesepakatan yang didukung AS atau menghadapi konsekuensi militer besar.

Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller mengatakan Iran kini berada di titik penentuan.

“Iran menghadapi pilihan antara menerima kesepakatan atau menghadapi respons militer yang belum pernah terlihat dalam sejarah modern,” ujar Miller kepada Fox News.

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan kesepakatan damai sebenarnya sudah “di ambang tercapai”.

Trump memberi waktu “beberapa hari lagi” untuk diplomasi sebelum mempertimbangkan langkah lebih keras.

“Semoga mereka membuat kesepakatan yang akan bagus untuk semua pihak,” kata Trump.

Hormuz Memanas

Di tengah negosiasi yang masih buntu, Iran terus memperketat pengawasan di Selat Hormuz.

Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk Iran mengumumkan pembentukan “zona pengawasan” baru di jalur pelayaran strategis tersebut.

Baca juga: Iran Tinjau Proposal Perdamaian AS, Trump Bersedia Menunggu Beberapa Hari Lagi

Pemerintah Iran memperingatkan bahwa kapal yang melintas tanpa izin akan dianggap ilegal.

Sementara itu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah mengoordinasikan pelayaran 26 kapal, termasuk tanker minyak dan kapal dagang, dalam 24 jam terakhir.

“Kapalkapal tersebut melintas setelah koordinasi dan pengamanan dari Angkatan Laut IRGC,” demikian pernyataan IRGC melalui akun resminya di X.

Langkah tersebut, kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global karena Selat Hormuz menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

Israel dan Lebanon Makin Tegang

Ketegangan regional juga terus meluas ke Lebanon dan Israel.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan lebih dari 20 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon selatan.

Kelompok Hizbullah mengklaim telah melancarkan 24 serangan terhadap pasukan Israel menggunakan roket, artileri, dan drone.

Militer Yordania juga mengumumkan berhasil menembak jatuh sebuah drone misterius yang memasuki wilayah udaranya di Provinsi Jerash.

Di Israel, Kepala Staf Militer Letjen Eyal Zamir mengatakan pasukan Israel berada pada tingkat kesiagaan tertinggi.

“Saat ini militer berada pada tingkat siaga tertinggi dan siap menghadapi perkembangan apa pun,” ujar Zamir.

Kecaman terhadap Israel juga meningkat setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengunggah video yang memperlihatkan aktivis armada bantuan Gaza diperlakukan keras oleh penjaga penjara Israel.

Baca juga: Intelijen AS: Iran Diam-Diam Bangun Mesin Perang, Kebut Produksi Drone Tempur

Australia, Kanada, Prancis, Italia, Belgia, Belanda, dan Selandia Baru termasuk negara yang memanggil diplomat Israel terkait insiden tersebut.

Al Jazeera melaporkan perang Iran kini semakin memperbesar risiko gangguan energi global serta memperluas ketidakstabilan keamanan di Timur Tengah.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved