Iran Vs Amerika Memanas
Yakin Perang AS-Iran Segera Berakhir, Trump: Kami Akan Dapatkan yang Kami Mau
Trump mengatakan negosiasi berlangsung dengan Iran dan memperkirakan perang segera berakhir, tapi menegaskan Iran tak boleh punya senjata nuklir.
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran masih berlangsung dan konflik diperkirakan segera berakhir.
- Trump menegaskan AS tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir serta mengklaim Washington mengendalikan Selat Hormuz melalui blokade ketat.
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut ada “tanda-tanda baik” dalam pembicaraan damai lewat mediasi Pakistan.
- Namun, Rubio juga memperingatkan opsi militer tetap terbuka jika negosiasi gagal.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran masih terus berlangsung dan menyebut konflik yang memanas dalam beberapa bulan terakhir “akan segera berakhir.”
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis, di tengah meningkatnya tekanan diplomatik internasional untuk menghentikan perang yang pecah sejak 28 Februari 2026.
Trump menegaskan bahwa Washington tetap tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.
“Kami tidak akan mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir dalam kesepakatan apa pun yang mungkin terjadi,” kata Trump, Kamis (21/5/2026).
"Amerika Serikat akan memperoleh apa yang diinginkannya dengan satu atau lain cara," lanjutnya.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyoroti langkah tekanan militer dan ekonomi yang dilakukan Washington terhadap Teheran.
Menurutnya, Angkatan Laut AS saat ini menjalankan “blokade kuat” terhadap Iran dan secara efektif mengendalikan jalur strategis Selat Hormuz.
Trump menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional tersebut harus tetap terbuka tanpa tarif maupun pembatasan.
“Kami ingin Selat Hormuz tetap terbuka untuk perdagangan internasional tanpa tarif atau hambatan,” ujarnya.
Trump juga menegaskan Washington tidak ingin uranium yang telah diperkaya tetap berada di wilayah Iran.
Ia mengatakan Amerika Serikat akan berupaya menghancurkan stok uranium Iran segera setelah berhasil diamankan, seperti diberitakan Al Arabiya.
Baca juga: Seruan IRGC Iran: Alarm Keras Bagi Aktivasi Sel Tidur Terorisme di Indonesia
Rubio: Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan Iran
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkap adanya “tanda-tanda baik” dalam pembicaraan dengan Iran.
Rubio menyebut Presiden Trump masih lebih memilih jalur diplomatik dibanding konfrontasi militer langsung, meskipun opsi militer tetap berada di meja pertimbangan.
“Presiden lebih memilih mencapai kesepakatan dengan Iran, tetapi tentu saja opsi militer tetap ada dalam pertimbangan,” kata Rubio kepada wartawan, Kamis.
Rubio juga mengungkap harapannya terhadap mediasi yang dilakukan Pakistan, lapor Times of Israel.
Menurutnya, Islamabad sedang memainkan peran penting untuk menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran.
“Saya pikir orang-orang Pakistan akan menuju ke Teheran hari ini, jadi saya berharap ini akan semakin memajukan pembicaraan,” ujar Rubio.
“Ada beberapa tanda yang baik, tetapi saya tidak ingin terlalu optimis,” kata Rubio, seraya menambahkan, “Mari kita lihat apa yang terjadi dalam beberapa hari ke depan.”
Pemerintah Pakistan diketahui tengah mengirim Kepala Staf Angkatan Daratnya, Jenderal Asim Munir, ke Teheran sebagai bagian dari upaya mediasi.
Iran saat ini juga disebut sedang mempertimbangkan proposal terbaru Amerika Serikat terkait penghentian perang dan penyelesaian isu nuklir.
Setelah negosiasi sempat menemui jalan buntu pada April lalu, Washington mulai memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sebagai balasan, Teheran menerapkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz dan mewajibkan kapal-kapal asing berkoordinasi dengan otoritas Iran sebelum melintas.
Rubio turut memperingatkan bahwa langkah Iran untuk mengenakan biaya atau pembatasan pelayaran di Selat Hormuz dapat menghancurkan peluang tercapainya kesepakatan damai.
“Tidak seorang pun di dunia mendukung Iran memungut biaya di Selat Hormuz,” tegasnya, lapor Al Arabiya.
Selain membahas Iran, Rubio juga melontarkan kritik keras terhadap sikap NATO yang dinilai tidak memberikan dukungan penuh kepada Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman Iran.
Ia mengatakan rudal Iran juga menjadi ancaman bagi Eropa dan seharusnya NATO ikut terlibat dalam kampanye tekanan terhadap Teheran.
“Rudal Iran mengancam Eropa, dan NATO seharusnya bergabung dalam kampanye kami,” ujar Rubio.
“NATO tidak mendukung kita, dan presiden sangat kecewa," tambahnya.
Meski situasi di kawasan masih belum stabil, pernyataan Trump dan Rubio menunjukkan Washington kini mencoba menyeimbangkan tekanan militer dengan jalur diplomasi, sembari berharap mediasi Pakistan dapat membuka jalan menuju kesepakatan baru dengan Iran dan mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran.
Serangan tersebut terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal menghasilkan kesepakatan baru terkait program nuklir Teheran.
Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kebutuhan energi serta penelitian sipil.
Ketegangan meningkat drastis setelah serangan awal dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Setelah itu, kepemimpinan Iran diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga menghentikan perundingan nuklir dan memperketat kontrol di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia. Langkah tersebut memicu gangguan pasokan energi global dan menyebabkan harga minyak internasional melonjak tajam.
Setelah hampir 40 hari pertempuran berlangsung, kedua pihak akhirnya menyetujui gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan.
Amerika Serikat sempat menggelar operasi militer bertajuk “Project Freedom” di Selat Hormuz, namun operasi itu dihentikan sementara guna membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Sejak gencatan senjata sementara diberlakukan bulan lalu, Amerika Serikat dan Iran terus saling bertukar proposal perdamaian melalui mediasi Pakistan.
Namun, ketegangan di lapangan belum sepenuhnya mereda dan kedua negara diyakini masih memiliki perbedaan besar dalam sejumlah isu utama.
Salah satu poin yang diperselisihkan ialah permintaan Amerika Serikat agar cadangan uranium Iran dipindahkan dari negara Republik Islam tersebut karena dianggap sebagai ancaman.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi tiba di Teheran pada Rabu untuk bertemu Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni, menurut laporan televisi pemerintah Iran, IRIB.
Kantor berita IRNA juga menyebut Naqvi dijadwalkan mengadakan serangkaian pertemuan lain dengan pejabat tinggi Iran.
Namun di saat bersamaan, Trump memperingatkan bahwa negosiasi dengan Iran kini berada di titik kritis.
“Jika kita tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat. Kita semua sudah siap,” kata Trump kepada wartawan pada Rabu (20/5/2026).
Kunjungan pejabat militer Pakistan ke Teheran disebut-sebut bertujuan menjembatani perbedaan posisi antara Iran dan Amerika Serikat, sebagaimana dilaporkan kantor berita ISNA Iran.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/truump-34534re.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.