Nilai Mata Uang Tetangga Indonesia Terus Menguat, Ini Faktor yang Menopang Kekuatan Ringgit Malaysia
Ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS dan mata uang lainnya karena membaiknya kondisi ekonomi Malaysia serta meredanya tensi geopolitik
Karena perusahaan global berupaya mengurangi ketergantungan terhadap China, banyak perusahaan aktif mencari basis produksi alternatif di Asia.
Malaysia muncul sebagai pilihan utama karena stabilitas politik, tenaga kerja terampil, dan infrastruktur yang berkembang baik.
Di tengah meningkatnya ketegangan AS-China, sejumlah perusahaan memindahkan rantai pasokan penting keluar dari China.
Penang kini semakin dikenal sebagai “Silicon Valley-nya ASEAN”.
Perusahaan besar seperti AMD dan Intel mendorong pertumbuhan di Penang melalui investasi asing yang signifikan pada pusat data AI, fasilitas manufaktur semikonduktor, dan kawasan industri berteknologi tinggi.
Masuknya investasi perusahaan multinasional tersebut membuat kebutuhan konversi mata uang asing ke ringgit meningkat, sehingga memperkuat permintaan terhadap mata uang Malaysia itu dalam jangka panjang.
2. Kesenjangan suku bunga yang lebih kecil
Pada akhir 2025, Federal Reserve AS dan beberapa bank sentral utama lainnya mulai memangkas suku bunga untuk mendukung perekonomian mereka.
Sebaliknya, Bank Negara Malaysia mempertahankan suku bunga kebijakan di level 2,75 persen.
Akibatnya, selisih suku bunga antara Malaysia dan AS menyempit sepanjang 2025 hingga awal 2026 dan menjadi salah satu pendorong utama apresiasi ringgit Malaysia.
Dengan imbal hasil yang relatif stabil dan kompetitif, obligasi serta deposito Malaysia menjadi semakin menarik bagi investor global yang mencari keuntungan lebih tinggi.
Hal ini meningkatkan arus masuk modal asing dan mendukung penguatan ringgit.
3. Disiplin fiskal yang lebih kuat
Pemerintah Malaysia mengambil langkah konkret untuk memperkuat keuangan negara dengan mengurangi subsidi bensin secara menyeluruh dan menggantinya dengan subsidi yang lebih terarah.
Penghematan dari reformasi tersebut disalurkan kembali melalui program seperti Sumbangan Asas Rahmah (SARA), yang memberikan bantuan langsung kepada rumah tangga berpenghasilan rendah.
Langkah-langkah ini membantu memulihkan kepercayaan terhadap pengelolaan fiskal Malaysia dan mulai tercermin di pasar.
Setelah mengalami arus keluar sebesar 22,3 miliar ringgit Malaysia pada 2025, investor asing kembali menjadi pembeli bersih dengan arus masuk sekitar 1,0 miliar ringgit Malaysia pada Januari 2026.