Heboh Restoran Ramen Kepiting Jepang Dituding Pakai Bahan Impor, Sang Pemilik Buka Suara
Restoran ramen kepiting di Tokyo menuai kontroversi usai memakai soft shell crab impor meski mengusung citra kepiting Jepang
Ringkasan Berita:
- Restoran ramen spesialis kepiting milik chef Jepang Komeo di Asakusa, Tokyo, menjadi sorotan karena menggunakan soft shell crab impor dari China
- Publik Jepang menilai citra restoran yang mengangkat kehebatan kepiting Jepang tidak sejalan dengan bahan yang dipakai hingga memicu tuduhan “pemalsuan makanan”
- Komeo membela diri dengan menyebut pasokan domestik terbatas dan mengatakan ramen buatannya juga disiapkan untuk pasar Muslim, termasuk Indonesia
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Restoran ramen spesialis kepiting milik chef sekaligus mantan petarung Jepang, Komeo, di kawasan Asakusa menjadi sorotan tajam di media sosial hanya beberapa hari setelah dibuka pada Mei 2026.
Restoran tersebut menuai kontroversi setelah dituduh melakukan “pemalsuan makanan” oleh sebagian masyarakat Jepang karena diketahui menggunakan soft shell crab asal China, meski sebelumnya Komeo menyampaikan keinginannya untuk menyampaikan kehebatan kepiting Jepang.
Di tengah kontroversi itu, restoran tersebut juga disebut ingin menyasar pasar internasional, termasuk Indonesia, dengan menghadirkan menu ramen kepiting yang ramah bagi konsumen Muslim.
Kritik publik berkembang karena sebagian netizen menilai citra yang dibangun restoran tidak sejalan dengan bahan baku yang digunakan. Dalam budaya kuliner Jepang, khususnya ramen, konsumen dinilai tidak hanya memperhatikan rasa, tetapi juga asal bahan, filosofi, serta narasi yang dibawa pemilik restoran.
Menurut pengamat kuliner Jepang, persoalan utama bukan semata penggunaan bahan asal China, melainkan soal transparansi informasi dan konsistensi cerita yang dibangun restoran.
Baca juga: Kursus Ramen Rp60 Juta per Minggu di Jepang Diserbu Warga Asing, Termasuk WNI
Selama ini Komeo dikenal aktif menyuarakan dukungan terhadap bahan lokal Jepang, budaya Jepang, hingga pemulihan daerah-daerah terdampak bencana di Jepang. Karena itu, ketika diketahui ada penggunaan bahan impor dalam ramen kepitingnya, sebagian publik merasa kecewa.
Menanggapi kontroversi tersebut, Komeo menjelaskan melalui akun X miliknya bahwa restorannya memang menggunakan bahan dari China, Indonesia dan Thailand.
Ia menegaskan soft shell crab produksi domestik Jepang hampir tidak tersedia dalam jumlah memadai untuk kebutuhan operasional restoran.
“Kami membutuhkan sekitar 200 porsi soft shell crab per hari. Jika hanya mengandalkan produk domestik, pasokannya tidak akan mencukupi,” jelasnya.
Komeo juga membantah kabar bahwa restorannya menggunakan kepiting dari Noto, Jepang.
Menurutnya, hal itu tidak memungkinkan karena terdapat periode larangan penangkapan kepiting di wilayah tersebut.
Ia menegaskan dukungannya terhadap pemulihan Noto bersifat pribadi dan tidak berarti seluruh bahan restoran berasal dari daerah itu.
Menurut Komeo, kaldu ramen tetap menggunakan snow crab, sedangkan soft shell crab dipilih sebagai topping karena populer di Asia Tenggara dan memiliki cita rasa yang cocok dengan konsep menu yang diusung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ramen2222222.jpg)