Skandal Pelecehan Seksual Anak Prasekolah di Paris, Lebih dari 100 Kasus Diperiksa
Lebih dari 100 kasus pelecehan dan penganiayaan seksual terhadap anak-anak prasekolah berusia 3–6 tahun tengah diselidiki di Paris.
Ringkasan Berita:
- Lebih dari 100 kasus pelecehan dan penganiayaan seksual terhadap anak-anak prasekolah berusia 3–6 tahun tengah diselidiki di Paris
- Kasus ini melibatkan 84 sekolah dan berujung pada penangguhan 78 pengawas sekolah.
- Merespons skandal ini, Wali Kota Paris mengumumkan paket perbaikan senilai 20 juta euro sambil mengakui bahwa pihak berwenang selama ini gagal menanggapi peringatan orang tua dengan serius
TRIBUNNEWS.COM - Lebih dari 100 kasus penganiayaan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak prasekolah kini tengah diselidiki di Paris, Prancis.
Menurut laporan The Guardian, Jaksa Penuntut Umum Paris, Laure Beccuau, mengonfirmasi bahwa investigasi besar-besaran sedang berlangsung.
Penyelidikan ini mencakup 84 sekolah prasekolah, sekitar 20 sekolah dasar, dan sekitar 10 pusat penitipan anak atau daycare.
Besarnya skala kasus ini membuat Balai Kota Paris menangguhkan 78 pengawas sekolah (school monitor), termasuk 31 orang yang secara langsung dicurigai melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak berusia 3–4 tahun.
Salah satu korban, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, awalnya menolak masuk sekolah.
Ia berdiam diri di depan gerbang sekolah dengan raut penuh ketakutan.
Saat itu, baik orang tua maupun guru yang membimbingnya masuk ke kelas tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Belakangan barulah mereka mengetahui alasan di balik ketakutan anak tersebut, ia diduga telah dilecehkan oleh pengawas sekolah.
Mengenal Pengawas Sekolah dan Sistem Pendidikan di Prancis
Di Prancis, pendidikan anak dimulai sejak usia dini bahkan sejak 0 tahun.
Sebelum memasuki sekolah dasar, anak-anak menjalani hingga dua tahap pendidikan prasekolah atau penitipan anak.
Dilansir expatica.com, dari usia 0 hingga 3 tahun, anak-anak dapat masuk daycare, meskipun tidak bersifat wajib.
Setelah itu, pada usia 3–6 tahun, anak-anak wajib mengikuti sekolah prasekolah. Di sinilah kasus pelecehan seksual ini terjadi.
Sekolah prasekolah di Prancis terbagi menjadi dua jenis, yakni sekolah negeri yang didanai pemerintah dan sekolah swasta yang berbayar.
Di sekolah negeri, orang tua hanya menanggung biaya layanan tambahan seperti makan siang dan penitipan setelah sekolah.
Baca juga: 5 Kota dengan Kasus Kekerasan di Daycare, Jogja Catat 103 Anak Terdampak
Umumnya, prasekolah Prancis memiliki tiga kelas yang dibagi berdasarkan usia:
- Petite Section (PS) – usia 3–4 tahun
- Moyenne Section (MS) – usia 4–5 tahun
- Grande Section (GS) – usia 5–6 tahun
Beberapa sekolah menggabungkan kelompok usia ini agar anak-anak dapat bersosialisasi lintas usia.
Peraturan perundang-undangan Prancis tidak lagi mengizinkan pendidikan di rumah (homeschooling), kecuali dalam kasus-kasus sangat khusus seperti disabilitas berat.
Sekolah negeri pun diwajibkan mengintegrasikan anak-anak dengan disabilitas fisik atau kesulitan belajar ringan.
Prasekolah Prancis menyelenggarakan 24 jam pelajaran per minggu, yang dapat diatur dengan berbagai cara tergantung kebijakan sekolah.
Contoh umum adalah dua jam di pagi hari dan dua hingga tiga jam di sore hari, dengan jeda panjang untuk makan siang.
Setiap kelas umumnya terdiri dari 25 anak atau lebih, seorang guru, dan seorang asisten pengajar.
Staf tambahan seperti psikolog atau pemimpin kegiatan jarang hadir secara rutin.
Adapun pengawas sekolah adalah staf non-pengajar yang bertugas mengelola perilaku siswa dan mengawasi anak-anak di luar jam pelajaran, seperti saat istirahat makan siang, waktu tidur siang, dan kegiatan setelah sekolah.
Apa yang Dilakukan Anak-Anak di Prasekolah?
École maternelle berfungsi sebagai fase transisi antara daycare dan sekolah dasar, dengan penekanan pada bermain dan sosialisasi.
Anak-anak masih memiliki waktu tidur siang dan boleh pulang untuk makan siang.
Namun, mereka juga mulai diperkenalkan pada kegiatan membaca, menulis, serta tugas-tugas terstruktur.
Aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dari rutinitas harian mereka.
Perkembangan setiap anak biasanya dipantau guru melalui buku catatan yang dibawa pulang untuk ditunjukkan kepada orang tua.
Tujuan utama tahap ini adalah membiasakan anak dengan lingkungan sekolah.
Peran Pengawas Sekolah
Mengutip News Live 9, pada kenyataannya pengawas sekolah justru lebih sering menghabiskan waktu bersama siswa dibandingkan guru kelas itu sendiri.
Para pengawas tidak dipekerjakan langsung oleh sekolah atau Kementerian Pendidikan Prancis, melainkan direkrut oleh pemerintah kota setempat.
Posisi ini seringkali tidak mensyaratkan pelatihan formal maupun kualifikasi profesional apa pun, dan sebagian besar dipekerjakan dengan kontrak per jam.
Kesaksian Orang Tua
Orang tua di seluruh negeri kini berbagi kisah memilukan tentang pengalaman anak-anak mereka.
Menurut The Guardian, sejumlah keluarga melaporkan bahwa para pengawas berteriak agresif kepada balita, mendorong, bahkan menarik rambut mereka.
Anak-anak lain dilaporkan sengaja tidak diberi makan sebagai bentuk hukuman, sementara beberapa dipaksa makan berlebihan hingga jatuh sakit.
Perjuangan Hukum
Pengacara Louis Cailliez, yang mewakili dua keluarga korban, mengajukan pengaduan resmi ke polisi terkait dugaan pemerkosaan terhadap anak-anak prasekolah.
Dalam salah satu kasus, pengawas yang dituduh memperkosa seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sebelumnya telah dilaporkan atas tuduhan kekerasan fisik di sekolah lain, namun hanya dipindahtugaskan.
Tindakan hukum akhirnya diambil. Persidangan akan segera digelar di Paris untuk seorang pengawas yang dituduh melecehkan 5 anak berusia 3–5 tahun.
Selain itu, putusan untuk seorang pengawas berusia 47 tahun yang dituduh melecehkan 9 anak perempuan berusia 10 tahun diharapkan keluar bulan depan.
Selama bertahun-tahun, kelompok orang tua mengaku peringatan mereka diabaikan oleh para pejabat.
Pengacara Florian Lastelle, yang mewakili tiga keluarga lainnya, menyebut situasi ini sebagai skandal besar yang mengancam keselamatan seluruh sistem sekolah negeri di Prancis.
Menanggapi gelombang protes publik, Wali Kota Paris yang baru dilantik, Emmanuel Gregoire, mengumumkan rencana senilai 20 juta euro ( sekitar Rp414,7 miliar) untuk memperbaiki sistem yang sudah rusak ini.
Gregoire, yang secara terbuka mengungkap bahwa dirinya pun pernah menjadi korban pelecehan oleh seorang pengawas semasa kecil, mengakui bahwa pihak berwenang telah melakukan kesalahan dengan memperlakukan insiden-insiden ini sebagai kejadian terisolasi, bukannya menangani risiko sistemik yang nyata.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Foto-ilustrasi-anak-bermain-di-sekolah-p-pelecehan-seksual-anak.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.