Senin, 1 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Unjuk Gigi! Sistem Pertahanan Baru Arash-e Kamangir Diklaim Bisa Jatuhkan Drone Tempur AS

Iran pamer sistem pertahanan udara baru Arash-e Kamangir yang diklaim mampu menjatuhkan drone tempur AS di Selat Hormuz.

Tayang:

Ringkasan Berita:
  • Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone canggih MQ-9 Reaper milik AS menggunakan sistem pertahanan udara baru bernama Arash-e Kamangir.
  • Sistem Arash-e Kamangir disebut memiliki kemampuan mobile dan sulit dideteksi, sehingga dinilai mampu mengancam operasi drone serta serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
  • Ketegangan Iran-AS semakin berbahaya karena insiden ini terjadi di tengah konflik militer di sekitar Selat Hormuz yang dapat memicu krisis energi dan eskalasi perang di Timur Tengah.

TRIBUNNEWS.COM – Militer Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone pengintai canggih milik Amerika Serikat menggunakan sistem pertahanan udara baru bernama Arash-e Kamangir.

Klaim tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Teluk, terutama setelah serangkaian serangan militer terbaru di sekitar Selat Hormuz dan Bandar Abbas.

Media Iran menyebut drone MQ-9 Reaper milik AS ditembak jatuh di dekat Pulau Qeshm, kawasan strategis yang berada di Selat Hormuz.

Meski pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait penggunaan senjata ini, namun serangan tersebut menjadi penggunaan tempur pertama sistem pertahanan udara Arash-e Kamangir yang sebelumnya belum pernah diperlihatkan secara terbuka di medan perang.

Apa Itu Sistem Arash-e Kamangir?

Mengutip dari Al Jazeera, Arash-e Kamangir merupakan sistem pertahanan udara lokal yang dirancang untuk mendeteksi dan menyerang target udara, termasuk drone pengintai modern.

Iran mengklaim sistem ini memiliki kemampuan deteksi siluman dan mampu beroperasi tanpa terlalu bergantung pada radar besar seperti sistem pertahanan udara konvensional.

Nama “Arash-e Kamangir” sendiri diambil dari tokoh legenda Persia bernama Arash sang pemanah, sosok yang dikenal dalam cerita rakyat Iran sebagai pahlawan penjaga perbatasan negara dari ancaman asing.

Bagi Iran, penggunaan nama tersebut bukan sekadar simbol militer, tetapi juga pesan politik bahwa Teheran siap mempertahankan wilayahnya dari tekanan Amerika Serikat dan Israel.

Baca juga: Kuwait Siaga Perang! Mendadak Aktifkan Pertahanan Udara Saat Konflik AS-Iran Meledak

Mengapa Sistem Ini Dinilai Berbahaya?

Sejumlah analis keamanan internasional menilai Arash-e Kamangir kemungkinan bukan senjata revolusioner, tetapi bagian dari strategi baru Iran dalam membangun pertahanan udara murah, mobile, dan sulit dihancurkan.

Berbeda dengan sistem pertahanan konvensional yang bergantung pada radar besar dan mudah dilacak, sistem seperti ini diduga menggunakan sensor elektro-optik atau pencari panas sehingga dapat dipindahkan dengan cepat dan lebih sulit diserang.

Strategi tersebut membuat Iran tidak terlalu bergantung pada sistem mahal seperti S-300 buatan Rusia yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan udaranya.

Menurut para pengamat, pendekatan Iran lebih menekankan pada ketahanan dan kemampuan bertahan jangka panjang dibanding mengejar teknologi paling modern.

Artinya, Iran mencoba menciptakan banyak sistem sederhana namun efektif untuk mengganggu operasi udara musuh.

Jika klaim Iran terbukti benar, maka Amerika Serikat dan Israel kemungkinan harus mengubah strategi militernya.

Kedua negara selama ini mengandalkan drone pengintai dan serangan udara presisi untuk menekan Iran.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved