Iran Vs Amerika Memanas
Rumor Perseteruan Trump dan Netanyahu Mencuat, Analis: Bisa Jadi Hanya Perang Narasi
Rumor Trump memaki Netanyahu memicu spekulasi retaknya hubungan AS-Israel, namun analis menilai itu bisa sekadar perang narasi.
Menurutnya, narasi mengenai Trump yang marah kepada Netanyahu justru bertentangan dengan kenyataan di lapangan.
"Laporan yang menggambarkan Trump mengangkat telepon dan berteriak kepada Netanyahu tidak sesuai dengan hasil kebijakan yang sebenarnya, di mana Netanyahu mendapatkan persis apa yang diinginkannya," kata Hayslip kepada Al Jazeera.
Ia menilai pemerintahan AS, seperti pemerintahan sebelumnya, masih gagal menempatkan kepentingan Amerika di atas agenda ekspansionis Israel.
Pernyataan tersebut muncul ketika Israel terus memperluas operasi militernya di Lebanon selatan meski Trump sebelumnya mengumumkan bahwa semua pihak telah sepakat menghentikan tembak-menembak.
Tak lama setelah pengumuman itu, Netanyahu justru menegaskan bahwa militer Israel akan "terus beroperasi sesuai rencana" di Lebanon selatan.
Diduga Upaya Meredam Kemarahan Publik
Peneliti senior Center for International Policy, Negar Mortazavi, memiliki pandangan berbeda.
Ia menilai kebocoran percakapan panas antara Trump dan Netanyahu mungkin sengaja disebarkan untuk membangun citra bahwa Gedung Putih bersikap keras terhadap Israel.
"Ini bisa jadi semacam cara untuk meredam kemarahan atau menyalahkan AS karena terus melanjutkan perang yang tidak populer, ilegal, dan tidak perlu ini," ujar Mortazavi.
Menurutnya, pesan yang ingin disampaikan kepada publik adalah bahwa Washington sebenarnya marah kepada Israel.
"Lihat, kami sangat marah pada Israel. Kami meneriaki mereka. Kami memanggil mereka dengan sebutan yang tidak pantas," kata Mortazavi menggambarkan narasi yang ingin dibangun melalui kebocoran tersebut.
Namun ia mengingatkan bahwa pertanyaan terpenting tetap sama.
"Apakah itu mengubah fakta di lapangan?" ujarnya.
Bagian dari Perang Informasi yang Lebih Besar
Costello menilai kebocoran itu juga bisa ditujukan kepada Iran.
"Saya melihat ini terutama sebagai sinyal kepada Iran bahwa Trump serius dan ingin memisahkan apa yang terjadi di Lebanon dari negosiasi dengan Iran," katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan belum ada tanda-tanda bahwa Israel mengubah perilakunya setelah laporan mengenai kemarahan Trump tersebut.
Baca juga: Sempat Kena Semprot Trump, Israel Akhirnya Mau Berunding dengan Lebanon
Mortazavi bahkan menyebut konflik saat ini telah berkembang menjadi perang multidimensi.
"Ini adalah perang hibrida. Ini adalah perang di medan pertempuran. Ini adalah perang intelijen. Ini adalah perang narasi," katanya.
"Dan kemudian ada juga perang informasi yang mencakup disinformasi, setengah kebenaran, dan kebocoran strategis."
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)