Rabu, 3 Juni 2026

Pria di Kyoto Gugat Rumah Sakit Rp1,2 Miliar, Mantan Istri Diduga Gunakan Sperma Pria Lain

Pria di Kyoto menggugat rumah sakit fertilitas setelah mantan istrinya diduga memakai sperma pria lain tanpa sepengetahuannya

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Yomiuri
GUGAT RUMAH SAKIT - Pengadilan Distrik Kyoto. Seorang pria di Kota Kyoto mengajukan gugatan perdata terhadap sebuah rumah sakit yang menangani program fertilitas (bayi tabung), setelah mantan istrinya diduga menggunakan sperma pria lain dengan mengatasnamakan sperma suaminya untuk menjalani proses pembuahan dan melahirkan anak kedua. Menurut gugatan yang diajukan ke Pengadilan Distrik Kyoto pada 26 Maret lalu, pria tersebut menuntut ganti rugi sebesar 11 juta yen atau sekitar Rp1,2 miliar kepada yayasan medis yang mengelola rumah sakit tersebut. Sidang perdana dijadwalkan berlangsung pada 3 Juni (Yomiuri) 

Kasus ini kembali memunculkan perdebatan mengenai lemahnya mekanisme verifikasi identitas dalam program fertilitas di Jepang. Para ahli menilai sistem saat ini sangat bergantung pada kejujuran pasien. Jika pasien memberikan informasi palsu, rumah sakit sulit mendeteksinya tanpa prosedur pemeriksaan yang lebih ketat.

Namun, di sisi lain, pengetatan prosedur verifikasi juga dikhawatirkan akan meningkatkan beban administratif baik bagi pasien maupun fasilitas medis, sehingga akses terhadap layanan fertilitas menjadi lebih sulit.

Komentar Berbagai Pihak

Mengenai perawatan infertilitas, Japan Society of Obstetrics and Gynecology meminta institusi medis untuk menjelaskan kebijakan perawatan kepada pasangan dan mendapatkan persetujuan tertulis terlebih dahulu. Namun, aturan terperinci seperti kapan persetujuan diperoleh diserahkan kepada masing-masing institusi medis, dan tidak ada peraturan yang jelas untuk verifikasi identitas pihak pria tersebut.

 Dalam konteks ini, sering terjadi kasus di mana istri digugat karena menggunakan sel telur yang dibuahi in vitro yang telah dibekukan dan disimpan tanpa izin suami mereka.

 Masahiko Takemura, Kepala Direktur Obstetri dan Ginekologi di Osaka Acute Care and General Medical Center (Sumiyoshi-ku, Kota Osaka), yang merupakan instruktur yang memenuhi syarat dari masyarakat yang sama, menunjukkan, "Perawatan berdasarkan deklarasi pasien sendiri adalah dasar dasar perawatan medis. Di bawah aturan saat ini, bahkan jika pasien memberikan penjelasan yang salah, sulit bagi rumah sakit untuk mendeteksinya." "Jika rumah sakit secara ketat memverifikasi situasi, itu akan meningkatkan beban pada pasien dan rumah sakit, meningkatkan rintangan untuk perawatan," katanya, menyoroti kesulitan tindakan balasan.

 Di Klinik Ginekologi Tamura Hideko (Nakagyo-ku, Kota Kyoto), yang menyediakan perawatan infertilitas, kedua pasangan diminta untuk menyerahkan formulir persetujuan tulisan tangan selama pengambilan sel telur dan pemindahan sel telur yang dibuahi, dan tulisan tangan dikonfirmasi agar sesuai dengan formulir persetujuan yang diserahkan pada awal perawatan.

Diskusi  beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved