Bangkai Paus Sperma 17 Meter di Jembrana akan Dijadikan Sarana Edukasi Museum
Proses penanganan dan penguburan paus raksasa itu sempat terkendala cuaca hujan deras yang mengguyur lokasi hingga Rabu (6/5/2026) malam
Ringkasan Berita:
- Bangkai paus sperma betina sepanjang 17 meter yang terdampar di Jembrana, Bali, direncanakan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi museum
- Proses penanganan masih menunggu arahan KKP dan perizinan PKBSI setelah nekropsi selesai dilakukan tim JSI
- Polisi turut memperketat pengamanan karena paus sperma merupakan satwa dilindungi
TRIBUNNEWS.COM, BALI - Bangkai paus sperma betina sepanjang 17 meter yang terdampar di pesisir Jembrana, Bali, rencananya akan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi museum.
Saat ini proses penanganan bangkai mamalia laut tersebut masih menunggu arahan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta persiapan perizinan dari Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI).
Sebelumnya, proses penanganan dan penguburan paus raksasa itu sempat terkendala cuaca hujan deras yang mengguyur lokasi hingga Rabu (6/5/2026) malam.
Akibatnya, penanganan lanjutan dijadwalkan kembali dilakukan pada Kamis (7/5/2026).
Petugas Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Denpasar, Marendra Erlangga, mengatakan proses nekropsi atau pemeriksaan bangkai hewan telah selesai dilakukan tim Joint Survey Investigation (JSI) pada Rabu sore.
Baca juga: Hiu Paus Mati Terdampar di Pantai Bayem Tulungagung, Ternyata Bukan yang Pertama
Menurut dia, berdasarkan arahan Direktorat Jenderal Konservasi Spesies dan Genetik (KSG) KKP, bangkai paus sperma tersebut direncanakan dimanfaatkan untuk kepentingan edukasi dan museum.
“Proses selanjutnya masih ditangani oleh PKBSI. Untuk teknisnya seperti apa masih menunggu arahan dari Direktur KSG,” ujar Marendra saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).
Tulang Paus Akan Dimanfaatkan
Marendra menjelaskan, pihak terkait saat ini masih membahas mekanisme penanganan lanjutan terhadap bangkai paus tersebut.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan yakni pemisahan tulang dari jaringan tubuh paus sebelum dilakukan proses penguburan.
“Informasinya yang akan dimanfaatkan nanti adalah bagian tulangnya,” katanya.
Menurut dia, tulang paus sperma tersebut nantinya berpotensi dijadikan sarana edukasi dan koleksi museum untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai biota laut dilindungi.
Meski demikian, seluruh proses masih menunggu petunjuk resmi dari KKP serta kelengkapan perizinan sebelum dilakukan eksekusi di lapangan.
“Yang menangani saat ini masih dari PKBSI. Mereka juga masih mempersiapkan proses perizinannya,” tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/IKANPAUS11111.jpg)