Konflik Rusia Vs Ukraina
Ukraina Ungkap Rusia Mau Lanjut Perang hingga Tahun 2027 atau 2028
Presiden Ukraina Zelenskyy mengungkap informasi intelijen Ukraina bahwa Rusia akan memperpanjang perang hingga tahun 2027 dan 2028.
Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menyetujui rancangan undang-undang yang berisi bantuan baru bagi Ukraina sekaligus sanksi tambahan terhadap Rusia.
RUU tersebut mencakup lebih dari 1 miliar dolar AS untuk bantuan keamanan dan rekonstruksi, serta sekitar 8 miliar dolar AS dalam bentuk dukungan pertahanan melalui skema pinjaman.
Sejumlah anggota Kongres menilai langkah ini diperlukan untuk memastikan Ukraina tetap mampu mempertahankan diri dari agresi Rusia.
Namun, rancangan tersebut masih harus mendapatkan persetujuan Senat dan menghadapi ketidakpastian terkait dukungan dari pemerintahan Trump.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia dan Ukraina secara terbuka dimulai pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Namun, ketegangan antara kedua negara sebenarnya telah berkembang sejak Ukraina merdeka dari Uni Soviet pada 1991 dan mulai memperkuat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO menjadi salah satu faktor yang memicu kekhawatiran Rusia. Moskow menilai langkah tersebut dapat mengancam kepentingan keamanannya sekaligus mengurangi pengaruh Rusia di kawasan Eropa Timur.
Perselisihan semakin meningkat pada 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang berujung pada jatuhnya Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, yang dikenal dekat dengan Rusia. Tak lama kemudian, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donetsk dan Luhansk yang melibatkan kelompok separatis pro-Rusia.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman. Namun, kesepakatan tersebut sulit dijalankan secara efektif karena kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.
Ketegangan mencapai puncaknya pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer khusus di Ukraina. Rusia menyatakan langkah itu bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina dan mencegah ekspansi NATO, sementara Ukraina dan negara-negara Barat menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara.
Sejak perang berlangsung, Ukraina memperoleh bantuan militer, ekonomi, dan kemanusiaan dari Amerika Serikat, Uni Eropa, serta negara-negara sekutunya. Sebaliknya, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang memengaruhi sektor ekonomi, perdagangan, energi, dan teknologi.
Konflik ini juga memberikan dampak luas terhadap dunia, terutama pada pasokan pangan dan energi global, serta memperburuk ketegangan geopolitik internasional. Hingga kini, pertempuran masih berlangsung meski berbagai upaya diplomasi dan perundingan damai terus dilakukan.
Namun, proses negosiasi menghadapi tantangan karena perhatian Amerika Serikat tidak hanya tertuju pada Ukraina, tetapi juga pada berbagai konflik lain di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran.
Zelenskyy pada hari Rabu mengkritik AS karena tak kunjung mengirim delegasinya ke Kyiv untuk membahas kelanjutan pembicaraan dengan Rusia.
Presiden Ukraina itu kemudian mengirim surat terbuka kepada Putin untuk melakukan pertemuan langsung dan membahas gencatan senjata.
Rusia menanggapi tawaran tersebut dengan mengatakan Putin selalu terbuka untuk melakukan pertemuan dengan Zelenskyy di Moskow.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Z3L3NSKYY-5434545345.jpg)