Singapura Blokir Unggahan Anti-India, Khawatirkan Upaya Adu Domba dari Luar Negeri
Singapura memblokir 14 unggahan media sosial anti-India karena dianggap mengancam keharmonisan rasial
Ringkasan Berita:
- Singapura memblokir 14 unggahan media sosial anti-India yang diduga berasal dari platform berbasis di China karena dianggap mengancam keharmonisan rasial.
- Para analis menilai konten tersebut memanfaatkan sentimen xenofobia dan kekhawatiran terkait lapangan kerja untuk memecah masyarakat multirasial Singapura.
- Pemerintah menegaskan akan terus mengambil tindakan terhadap kampanye disinformasi asing yang berpotensi merusak kohesi sosial negara itu.
TRIBUNNEWS.COM - Langkah Singapura memblokir sejumlah unggahan media sosial bernada anti-India yang diduga berasal dari platform berbasis di China menyoroti bagaimana aktor asing memanfaatkan isu rasial di negara kota tersebut.
Mengutip SCMP, para analis memperingatkan bahwa medan baru penyebaran disinformasi ini sedang digunakan sebagai alat untuk menyerang masyarakat multirasial Singapura.
Pada Sabtu (7/6/2026), Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA) mengumumkan telah memerintahkan YouTube, Facebook, dan X untuk memblokir akses terhadap 14 unggahan daring.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa konten tersebut kemungkinan besar berasal dari sebuah platform yang berbasis di China sebelum kemudian disebarluaskan ke platform lainnya.
Menurut Chong Ja Ian, profesor madya ilmu politik di National University of Singapore, pihak-pihak yang bermusuhan biasanya menargetkan isu-isu yang dapat memecah masyarakat dan memicu emosi kuat, termasuk xenofobia dan rasisme, setelah mengidentifikasi titik-titik kerentanan dalam suatu negara.
Ia mengatakan bahwa saat ini terdapat kegelisahan terkait lapangan pekerjaan dan persepsi bahwa warga India yang datang ke Singapura mengambil pekerjaan masyarakat lokal. Menurutnya, sentimen rasis yang selama ini tersembunyi kini sedang dimanfaatkan.
"Komunitas India saat ini menjadi sasaran yang paling mudah, tetapi yang sebenarnya dilakukan unggahan-unggahan tersebut adalah memainkan prasangka yang sudah ada," ujarnya.
Populasi penduduk Singapura terdiri dari sekitar 75 persen etnis Tionghoa, 15 persen Melayu, 7 persen India, dan kelompok lain yang mencakup komunitas Eurasia.
Baca juga: Singapura Disebut Meniru Konsep Perumahan RI, Fahri Hamzah: Ide HDB Berasal dari Indonesia
Pada Senin, Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, mengatakan dunia saat ini berada dalam era ketika disinformasi semakin marak. Ia menegaskan bahwa Singapura akan tetap waspada dan bertindak ketika batas-batas yang dapat diterima telah dilanggar.
Menurut Wong, banyak negara menghadapi masalah serupa. Ia memperingatkan bahwa ketika masyarakat semakin sulit membedakan fakta dan fiksi, atau bahkan menyepakati fakta-fakta dasar, maka persatuan sosial akan terancam.
MHA menjelaskan bahwa sebagian besar konten tersebut ditulis dalam bahasa Mandarin dan beredar di ruang informasi berbahasa Tionghoa. Unggahan itu menggunakan foto dan video kawasan Little India yang ramai untuk mengklaim bahwa Singapura "dipenuhi terlalu banyak orang India".
Kementerian menilai unggahan tersebut merusak model multikulturalisme Singapura. Karena berasal dari sumber asing, tindakan tersebut dianggap semakin tidak dapat diterima.
Narasi yang disebarkan antara lain menyatakan bahwa kebijakan multirasial Singapura hanyalah kedok untuk menarik simpati Barat. Unggahan tersebut juga mengklaim bahwa stabilitas Singapura bukan hasil dari kebijakan multirasial, melainkan karena mayoritas penduduknya adalah etnis Tionghoa.
Selain itu, konten tersebut menuduh jumlah politisi keturunan India semakin bertambah dan akan mengutamakan kepentingan imigran India.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/UJARAN-KEBENCIAN-Foto-ilustrasi-sosial-media.jpg)