Yōhei Kōno, Mantan Ketua DPR Jepang, Meninggal Dunia pada Usia 89 Tahun
Yōhei Kōno, tokoh politik Jepang dan penggagas Pernyataan Kōno 1993, meninggal dunia pada usia 89 tahun.
Ringkasan Berita:
- Mantan Ketua Majelis Rendah Jepang dan tokoh senior Partai Demokrat Liberal (LDP), Yōhei Kōno, meninggal dunia pada usia 89 tahun
- Ia dikenal sebagai penggagas Pernyataan Kōno 1993 yang mengakui keterlibatan militer Jepang dalam sistem "comfort women" dan menjadi figur penting dalam hubungan Jepang dengan negara-negara Asia
- Kōno juga dikenang sebagai politikus moderat yang berperan besar dalam reformasi politik Jepang pascaperang
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Jepang kehilangan salah satu tokoh politik paling berpengaruh dalam sejarah politik modernnya. Yōhei Kōno, mantan Ketua Majelis Rendah Jepang (DPR Jepang), mantan Menteri Luar Negeri, dan mantan Presiden Partai Demokrat Liberal (LDP), meninggal dunia pada 8 Juni 2026 dalam usia 89 tahun.
Kabar duka tersebut terungkap melalui keterangan sejumlah sumber yang dekat dengan keluarga dan kalangan politik Jepang pada Rabu (10/6/2026).
Kōno lahir pada 15 Januari 1937 di Kota Hiratsuka, Prefektur Kanagawa. Ia merupakan putra dari Ichirō Kōno, mantan Menteri Pertanian Jepang dan salah satu tokoh politik berpengaruh pada era pascaperang.
Mengikuti jejak sang ayah, Kōno pertama kali terpilih sebagai anggota Majelis Rendah Jepang pada pemilu tahun 1967.
Pada 1976, ia mengejutkan dunia politik Jepang dengan keluar dari Partai Demokrat Liberal (LDP) karena mengkritik budaya politik uang yang berkembang saat itu. Bersama sejumlah politisi muda, ia kemudian mendirikan Partai New Liberal Club (Shin Jiyū Club).
Namun beberapa tahun kemudian, Kōno kembali bergabung dengan LDP dan terus menapaki karier politik hingga menduduki berbagai jabatan penting.
Salah satu warisan politik yang paling dikenal adalah "Pernyataan Kōno" (Kōno Statement) yang diumumkannya pada tahun 1993 saat menjabat Kepala Sekretaris Kabinet dalam pemerintahan Perdana Menteri Kiichi Miyazawa.
Baca juga: Masalah Kebisingan Picu Penusukan Sesama WNI di Yamanashi Jepang
Dalam pernyataan tersebut, pemerintah Jepang mengakui keterlibatan militer Jepang dalam sistem "comfort women" atau perempuan penghibur selama Perang Dunia II serta menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf. Pernyataan itu hingga kini tetap menjadi salah satu dokumen paling penting dalam hubungan Jepang dengan negara-negara Asia, terutama Korea Selatan.
Setelah LDP kehilangan kekuasaan pada 1993, Kōno terpilih menjadi Presiden LDP dan memimpin upaya reformasi serta konsolidasi partai hingga kembali menjadi kekuatan utama politik Jepang.
Sepanjang kariernya, ia juga pernah menjabat Menteri Luar Negeri, Wakil Perdana Menteri, dan Ketua Majelis Rendah Jepang periode 2003–2009.
Di dalam negeri Jepang, Kōno dikenal sebagai politikus moderat yang sering menyerukan dialog, rekonsiliasi, dan hubungan baik dengan negara-negara tetangga di Asia. Sikapnya yang moderat membuatnya dihormati banyak kalangan, meskipun sering menuai kritik dari kelompok konservatif.
Di luar Jepang, terutama di Korea Selatan dan China, Kōno dikenal sebagai salah satu tokoh Jepang yang berupaya memperbaiki hubungan regional melalui pendekatan yang lebih terbuka terhadap sejarah masa perang.
Yōhei Kōno juga dikenal sebagai ayah dari Tarō Kōno, politikus senior Jepang yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, Menteri Reformasi Administrasi dan beberapa kali disebut sebagai kandidat kuat Perdana Menteri Jepang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TOKOHPOLITIKMENINGGAL11113.jpg)