Konflik Rusia Vs Ukraina
Ukraina Lumpuhkan 'Jalan Raya Kematian' Rusia, Jalur Logistik Krimea Terancam Kolaps
Militer Ukraina luncurkan serangan ke salah satu jalur logistik menghubungkan Rusia dan Krimea. Ini adalah serangan lanjutan pada beberapa hari ini.
Di sisi lain, Rusia masih memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan Timur Tengah dan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Namun tekanan terhadap sektor energi Rusia tetap besar karena Ukraina terus menyerang kapal tanker yang diduga menjadi bagian dari "armada bayangan" Rusia, sementara negara-negara pendukung Ukraina berupaya memperketat pengawasan terhadap pengiriman minyak Rusia di laut internasional.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022 merupakan eskalasi dari ketegangan panjang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun antara kedua negara.
Setelah memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991, Ukraina secara bertahap mempererat hubungan dengan negara-negara Barat dan menyatakan keinginan untuk bergabung dengan NATO.
Kebijakan tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap kepentingan dan keamanan strategisnya.
Situasi semakin memanas pada 2014 setelah terjadinya perubahan pemerintahan di Ukraina.
Pada tahun yang sama, Rusia mengambil alih Semenanjung Krimea dan konflik bersenjata meletus di wilayah Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur.
Berbagai upaya penyelesaian damai sempat ditempuh, namun gagal mengakhiri perselisihan yang terus berlanjut.
Pada Februari 2022, Rusia melancarkan operasi militer skala besar ke wilayah Ukraina.
Moskow menyatakan tindakan tersebut bertujuan melindungi masyarakat berbahasa Rusia dan mencegah ekspansi NATO ke arah perbatasannya.
Sebaliknya, Ukraina bersama negara-negara Barat menilai langkah itu sebagai invasi terhadap negara yang berdaulat.
Sejak pecahnya perang, Ukraina menerima dukungan militer, ekonomi, dan politik dari Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa.
Di sisi lain, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menargetkan sektor ekonomi, keuangan, dan perdagangannya.
Dampak konflik ini tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga memengaruhi stabilitas global, termasuk pasokan energi, pangan, dan kondisi ekonomi dunia.
Hingga saat ini, pertempuran masih berlangsung meskipun berbagai upaya diplomatik terus dilakukan untuk mencari jalan keluar.
Namun, proses negosiasi menghadapi tantangan baru akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan lain, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Dalam berbagai perundingan, Rusia menuntut agar Ukraina tidak bergabung dengan NATO, mengakui Krimea serta sejumlah wilayah yang diklaim Moskow sebagai bagian dari Rusia, membatasi kemampuan militernya, dan memberikan perlindungan yang lebih luas bagi warga berbahasa Rusia.
Sementara itu, Ukraina tetap menolak menyerahkan wilayahnya dan menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, dan keutuhan wilayah negara.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/otret-tentara-Ukraina-yang-diunggah-Presiden-Volodymyr-Zelensky-di.jpg)