Iran Vs Amerika Memanas
Iran Bantah Kesepakatan Sudah Dekat: Pendirian AS Berubah-ubah
Iran membantah klaim Trump bahwa kesepakatan AS-Iran sudah dekat. Ia mengatakan pendirian AS berubah-ubah mengenai nota kesepahaman.
Ringkasan Berita:
- Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Teheran menyetujui kesepakatan perdamaian pendahuluan, dan menyebut laporan tersebut masih bersifat spekulatif.
- Sumber diplomatik menyebut rancangan nota kesepahaman mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz, pelonggaran sebagian sanksi AS, serta komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
- Ketegangan mereda setelah Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran, hingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap berlanjutnya eskalasi.
TRIBUNNEWS.COM - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Kamis bahwa Teheran telah menyetujui kesepakatan perdamaian pendahuluan.
Esmail Baghaei menyampaikan hal tersebut setelah Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran dapat ditandatangani paling cepat pada akhir pekan ini, kemungkinan dilaksanakan di Eropa.
Trump juga mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah menyetujui persyaratannya.
"Saya mengerti jawabannya adalah ya," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval mengenai sikap pemimpin Iran terhadap kesepakatan itu, yang ia gambarkan sebagai "nota kesepahaman yang sangat kuat."
Trump juga mengatakan bahwa ancaman operasi militer AS terhadap Pulau Kharg di Iran untuk saat ini dibatalkan.
Gedung Putih melalui pernyataan resmi pada hari Kamis mengatakan Trump membatalkan serangan terjadwal terhadap Iran setelah aksi saling serang selama dua hari terakhir.
Esmail Baghaei menggambarkan berita tentang "nota kesepahaman" sebagai "spekulasi" dan mengatakan pihak berwenang terkait harus meninjau setiap detail teks tersebut.
Ia mengakui sebagian besar teks telah diselesaikan, tetapi menambahkan bahwa pihak Amerika terus mengubah pendirian mereka.
“Teks tersebut hampir rampung di bagian-bagian utamanya. Masalahnya adalah posisi Amerika Serikat yang saling bertentangan selalu menyebabkan gejolak dan gangguan dalam proses ini,” kata Baghaei, Jumat (12/6/2026).
Ia juga menekankan Iran tidak akan berkompromi pada “garis merahnya", seperti diberitakan IRNA.
Teheran belum secara resmi menanggapi kesepakatan yang disebut Trump. Media Iran melaporkan bahwa Iran belum menyetujui nota kesepahaman apa pun dari AS.
Baca juga: AS dan Iran Disebut Siap Teken Perjanjian Islamabad, Pesawat Militer AS Bergerak ke Eropa
Laporan Axios: Iran Setujui Persyaratan AS
Pada hari Jumat, sumber diplomatik mengatakan nota kesepahaman (MOU) yang dibahas oleh para negosiator menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran secara segera tanpa pungutan apa pun.
Selain itu, AS akan melonggarkan beberapa sanksi berdasarkan kepatuhan Iran, menurut laporan Axios.
Washington juga akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran selama 30 hari, yang akan memungkinkan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menyumbang sekitar 20 persen dari perdagangan minyak mentah global.
Axios melaporkan masih belum jelas apakah draf MOU tersebut membahas masalah aset Iran yang dibekukan oleh Barat.
Menurut sumber-sumber tersebut, Iran juga akan berjanji untuk tidak pernah memperoleh senjata nuklir dan mengambil langkah-langkah lain untuk mengurangi kekhawatiran AS atas persediaan uranium yang diperkaya.
"Masalah program nuklir Iran akan dibahas secara rinci pada tahap selanjutnya," tambah sumber diplomatik tersebut.
Iran telah berulang kali menegaskan program nuklirnya sepenuhnya damai dan menolak tuntutan Trump agar menyerahkan uranium yang telah diperkaya.
Axios menyimpulkan, jika nota kesepahaman itu akhirnya ditandatangani, maka akan disebut 'Perjanjian Islamabad' karena mediasi oleh Pakistan dan Qatar.
Perjanjian tersebut belum ditandatangani secara resmi. Sementara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Teheran belum mengambil keputusan akhir.
Al Arabiya melaporkan Iran telah menyampaikan persetujuan atas draf tersebut melalui mediator Qatar.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump mengklaim AS hampir mencapai kesepakatan dengan Iran, namun belum ada keputusan apapun yang terwujud.
Kemarin, Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan strategi yang salah dan keputusan impulsif Washington akan menciptakan rawa yang tak berujung di kawasan Teluk.
Harga Minyak Turun
Eskalasi AS dan Iran selama dua hari berturut-turut telah memicu lonjakan harga minyak global.
Hari ini, harga minyak turun dan memperpanjang kerugian dari sesi perdagangan sebelumnya, setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran.
Pernyataan Trump meredakan kekhawatiran akan peningkatan permusuhan antara AS dan Iran di kawasan tersebut.
Harga satu barel minyak mentah Brent Laut Utara turun sebesar 1,66 dolar, atau 1,84 persen, menjadi 88,72 dolar.
Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun sebesar 1,45 dolar, atau 1,65 persen, menjadi 86,26 dolar.
Brent telah turun sebesar 4,2 persen dan minyak mentah AS turun sebesar 4,4 persen selama seminggu terakhir, lapor Tasnim.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 masih menyisakan ketegangan meski gencatan senjata sementara telah berlaku sejak 8 April 2026. Hingga kini, proses negosiasi antara Washington dan Teheran terus berlangsung, namun kedua pihak belum mencapai kesepakatan damai yang bersifat permanen.
Konflik bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran menyusul gagalnya perundingan terkait program nuklir Teheran di Jenewa. Washington dan Tel Aviv menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sedangkan Teheran bersikeras bahwa program tersebut hanya ditujukan untuk kebutuhan energi dan penelitian sipil.
Situasi semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia pada tahap awal konflik. Sejumlah laporan menyebut kepemimpinan kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai balasan atas serangan yang diterimanya, Iran melancarkan serangan ke sejumlah target di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.
Setelah hampir 40 hari pertempuran berlangsung, ketegangan mulai mereda usai Pakistan memediasi tercapainya gencatan senjata sementara.
Meski demikian, sejumlah isu krusial masih menjadi bahan pembahasan dalam perundingan, mulai dari program pengayaan uranium Iran, keamanan pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Untuk menjaga jalur diplomasi tetap berjalan, Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, kembali mengunjungi Teheran. Selain Pakistan, Oman dan Qatar juga berperan sebagai mediator dalam komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Di tengah upaya diplomatik tersebut, Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa pemerintahannya masih mengutamakan penyelesaian melalui jalur perundingan. Namun, Trump juga mengingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka apabila negosiasi tidak menunjukkan perkembangan yang berarti.
Meski sempat mereda, ketegangan kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang. Eskalasi terbaru dipicu oleh jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz pada 9 Juni 2026.
Amerika Serikat menyebut serangan yang dilancarkannya sebagai respons atas dugaan provokasi Iran. Komando AS CENTCOM menyatakan operasi militer tersebut dilakukan atas perintah langsung Panglima Tertinggi sebagai tanggapan atas insiden jatuhnya helikopter Apache sehari sebelumnya.
Sebelumnya, Trump berulang kali menyatakan optimisme bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik. Namun hingga saat ini, belum ada kesepakatan resmi yang berhasil dicapai dalam proses perundingan antara kedua negara.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/JUBIR-KEMENLU-IRAN-Juru-bicara-Kementerian-Luar-Negeri-Iran-Esmail-Baghaei.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.