Iran Vs Amerika Memanas
Menteri Energi AS Sebut 7 Juta Barel Minyak per Hari Kembali Mengalir Lewat Selat Hormuz
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sekitar 7 juta barel minyak per hari kembali mengalir dari Teluk Persia berkat perlindungan militer AS
"Perlindungan militer tersedia dan hasilnya berjalan sangat baik," ujarnya.
Cadangan Minyak AS Terus Menurun
Harga minyak dunia sempat mencapai puncak sekitar 138 dolar AS per barel pada awal April, tepat sebelum gencatan senjata pertama diumumkan. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga awal tahun yang berada di sekitar 61 dolar AS per barel.
Namun pada 12 Juni, harga minyak turun ke sekitar 87 dolar AS per barel, level terendah sejak awal Maret, seiring meningkatnya harapan terhadap tercapainya perdamaian permanen.
Harga minyak tidak melonjak setinggi yang dikhawatirkan karena beberapa faktor, termasuk meningkatnya ekspor minyak dari Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat (SPR), berkurangnya impor minyak China, serta upaya penghematan energi di berbagai negara.
Selain itu, bertambahnya volume minyak yang berhasil keluar dari Timur Tengah melalui jalur pipa dan Teluk juga membantu menekan harga.
Analis energi Dan Pickering mengatakan krisis ini menunjukkan bahwa industri energi selalu menemukan cara untuk beradaptasi.
Namun ia memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tidak kembali beroperasi secara normal, maka dampak yang lebih besar terhadap harga minyak masih mungkin terjadi.
"Jika 7 juta barel per hari berhasil keluar, itu berarti masih ada sekitar 7 juta barel per hari lainnya yang belum bisa mengalir," ujarnya.
Menurut Pickering, lonjakan harga minyak yang lebih besar mungkin hanya tertunda hingga akhir musim panas karena cadangan darurat global terus berkurang.
Cadangan Strategis AS di Titik Terendah
Sejak perang dengan Iran dimulai, pemerintah AS telah mengeluarkan sekitar 66 juta barel minyak dari SPR hingga 5 Juni, menurut Departemen Energi AS.
Presiden Trump telah mengizinkan pelepasan total 172 juta barel minyak selama beberapa bulan ke depan. Perusahaan-perusahaan yang membeli minyak tersebut berjanji akan mengisi kembali cadangan itu di masa mendatang.
Pada 5 Juni, SPR turun menjadi 349,2 juta barel, level terendah dalam tiga tahun terakhir. Cadangan tersebut kini berkurang hampir 9 juta barel setiap minggu.
Jumlah itu mendekati level terendah sejak Agustus 1983.
Pickering mengingatkan bahwa penggunaan cadangan strategis secara terus-menerus tidak dapat dilakukan selamanya.
"Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin sedikit perlindungan yang dimiliki," katanya, seraya mengibaratkan cadangan minyak sebagai asuransi rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PEJABAT-AS-Foto-resmi-Chris-Wright-Sekretaris-Departemen-Ene.jpg)