Minggu, 17 Mei 2026

Mengenang Sosok Bagindo Dahlan Abdullah, Penggagas Awal Konsep Indonesia

Nama Dahlan Abdullah, sekian lama terlupakan oleh waktu, tenggelam di dalam manuskrip atau dokumen di Leiden, Belanda.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
Dok. Keluarga
PAHLAWAN - Baginda Dahlan Abdullah disebut sebagai ”Bapak Kebangsaan” karena sejumlah dokumen yang menunjukkan bahwa Dahlan adalah penggagas awal konsep Indonesia dalam pidato pertamanya pada Kongres Perserikatan Mahasiswa Hindia di Leiden, 23 November 1917. 

Ringkasan Berita:
  • Baginda Dahlan Abdullah adalah tokoh asal Pariaman, Sumatera Barat
  • Dahlan dalam pidatonya di Leiden, memperkenalkan istilah “Wij Indonesiër” (Kami orang Indonesia) sebagai identitas politik pertama bangsa 
  • Dia penerjemah “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan diplomat RI pertama di Timur Tengah

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 bukan sekadar seremoni untuk mengenang jasa para pejuang, melainkan momentum untuk menyalakan kembali semangat kepahlawanan, kepatriotan, dan keteladanan dalam diri setiap anak bangsa.

Dr. Iqbal Alan Abdullah MSc CMM, cucu dari tokoh nasional Bagindo Dahlan Abdullah  mengingatkan  mengutip UU No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, pemberian gelar pahlawan sejatinya bukan semata bentuk penghargaan atas jasa seseorang, melainkan cara untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai perjuangan dan semangat melahirkan karya terbaik bagi kemajuan bangsa.

“Gelar pahlawan diberikan bukan hanya untuk menghormati jasa seseorang, tapi untuk menumbuhkan semangat kepahlawanan, kejuangan, dan keteladanan dalam diri kita semua,” ujar Iqbal dalam keterangannya, Senin (10/11/2025).

Nama Bagindo Dahlan Abdullah, tokoh asal Pariaman, Sumatera Barat, nyaris tenggelam dalam sejarah.

Baca juga: Sosok Pengusul Pertama Soeharto Terima Gelar Pahlawan, Mulai Digaungkan pada 2008

Menurut Iqbal, nama Dahlan Abdullah, sekian lama terlupakan oleh waktu, tenggelam di dalam manuskrip atau dokumen di Leiden, Belanda sebelum kemudian ada peneliti yang mengungkapnya. 

Nama Dahlan terlupakan daripada nama-nama besar lain yang juga tokoh pimpinan "Indische Vereeniging" (Perhimpunan Hindia) pada masanya yang menjadi tonggak penting kebangkitan tonggak awal kesadaran nasional 1908 dan dimulainya pergerakan modern untuk mencapai kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Ada nama Soetan Kasajangan Soripada Harahap, Tjipto Mangoenkoesoemo, Suryadi Suryaningrat, dan EFE Dowes Dekker, Iwa Koesoemasoemantri, M Nazir Datuk Pamoentjak, Soekiman Wirjosandjojo, yang kemudian dilanjutkan Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Soetomo, Ali Sastroamidjojo, dan lainnya.

Bagindo Dahlan Abdullah sendiri adalah ketua Indische Vereeniging" tahun 1917-1919 saat berusia 22 tahun.

Di bawah pimpinan Dahlan, Perhimpunan Hindia yang awalnya kooperatif dengan Belanda berubah menjadi kritis terhadap kebijakan politik pemerintah Belanda di Hindia Belanda (Indonesia).

Sikap kritis, bahkan radikal itu antara lain banyak diungkap oleh Dr Harry A Poeze, Dr Suryadi, dan lainnya, terjadi dalam kongres-kongres yang diadakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Leiden.

Salah satunya mengenai isu pendidikan dimana Dahlan bersikeras untuk didirikannya universitas di Hindia (Indonesia), dan mengkritik pendidikan yang tidak memadai di Hindia (Indonesia).

”Dahlan bahkan dengan keras mengecam upaya membungkam kebebasan berbicara untuk mahasiswa Indonesia dalam mengkritik pemerintah Belanda. Poeze sendiri menyebut Dahlan sebagai ”pembicara radikal” diantara orang-orang Indonesia di negeri Belanda. Kiprah politik Dahlan selama berada di Belanda dapat dibaca dalam buku Harry A. Poeze ”Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950”.Jakarta: KPG dan KITLV-Jakarta, 2008,” ucap Iqbal, mantan anggota DPR RI ini, yang juga salah satu penulis Buku ”Baginda Dahlan Abdullah: Bapak Kebangsaan Indonesia, Yayasan Pustaka Obor Indonesia (2020).

Puncak dari perubahan ini adalah pada akhir 1922 Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) menyusul keterlibatan Mohammad Hatta di dalam organisasi ini tak lama setelah ia sampai di Belanda pada 5 September 1921.

Sejak itu, perhimpunan ini sepenuhnya menyatakan diri terlibat aktif dalam gerakan politik untuk memerdekakan Indonesia dari penjajah Belanda.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved