Bayi Tabung Belum Jadi Pilihan
Peminat program Fertilisasi In Vitro (FIV) atau bayi tabung di Indonesia masih tergolong rendah. I
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peminat program Fertilisasi In Vitro (FIV) atau bayi tabung di Indonesia masih tergolong rendah. Ini disebabkan karena biaya yang masih mahal dan belum adanya jaminan kesehatan yang menanggung program bayi tabung.
"Selain itu, kurangnya ketersediaan pakar kesehatan di bidang bayi tabung dan pendistribusiannya yang tidak merata serta pendidikan yang belum terstruktur juga memberikan pengaruh terhadap perkembangan FIV di Indonesia," ungkap Ketua Perkumpulan Fertilisasi In Vitro Indonesia, Prof. Dr. dr. Soegiharto Soebijanto, SpOG (K) .
Indonesia memiliki 16 akses pelayanan FIV yang tersebar di berbagai kota. Distribusi pelayanan FIV di Jakarta tersebar di 7 tempat. Saat ini tingkat prevelansi infertilitas penduduk Indonesia sebesar 10-15 persen dan terdapat 20.000 potensi siklus Fertilisasi In Vitro di Indonesia.
Prof. Soegiharto menambahkan, sistem rujukan infertilitas di Indonesia masih belum terstruktur dengan baik. Selain itu, distribusi pelayanan bidang infertilitas serta minimnya fasilitas juga menjadi alasan rendahnya aksesibilitas FIV di Indonesia.
"Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah agar masyarakat dapat dengan mudah menjangkau pelayanan gangguan kesuburan," ungkapnya.
Di Indonesia saat ini tingkat keberhasilan program bayi tabung antara 25-30 persen. Indonesia juga sukses melahirkan bayi tabung kembar 3 pertama tepatnya 27 Maret 1989.