Belanda Dokumentasikan Perubahan Pertumbuhan Generasi yang Positif Sejak 1858
Belanda mendokumentasikan perubahan pertumbuhan generasi yang positif sejak 1858
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dr Martine Alles, Direktur Developmental Physiology & Nutrition Danone Nutricia Early Life Nutrition, Belanda menyatakan, Belanda mendokumentasikan perubahan pertumbuhan generasi yang positif sejak 1858, yang dicerminkan dari peningkatan rata-rata tinggi badan, dari sekitar 163 cm pada awal abad sembilan belas sampai dengan sekitar 184 cm pada akhir abad dua puluh.
"Khusus dalam 42 tahun sejak 1955 sampai 1997, Belanda mencatat peningkatan rata-rata tinggi badan hampir 10 cm pada anak, remaja, dan dewasa muda. Selain masalah kebersihan dan keluarga berencana, kontributor utama bagi perubahan pertumbuhan generasi yang positif ini adalah peningkatan gizi dan kesehatan anak," ungkap Mertine dalam pemaparannya diacara bincang gizi Nutritalk dengan tema ‘Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global bagi Perbaikan Gizi Anak Bangsa’ yang diadakan PT Sarihusada Generasi Mahardika (Sarihusada), akhir minggu lalu.
Selain tinggi badan, Belanda juga mengalami peningkatan berat badan lahir. Pada 1989 – 1991 rata-rata berat badan lahir adalah 3370 gram, sedangkan pada 2004 – 2006 berat badan lahir meningkat menjadi 3430 gram.
“Seribu hari pertama kehidupan adalah periode penting bagi pertumbuhan anak-anak, karena pada periode ini terjadi pertumbuhan fisik dan penambahan masa otak, serta pengembangan signifikan kemampuan kognitif, tulang, imunitas, sistem pencernaan, dan organ-organ metabolisme. Kualitas pertumbuhan yang dialami pada periode ini akan mempengaruhi kesehatan mereka di masa depan. Bangsa Belanda telah membuktikan pengaruh kuat gizi terhadap kualitas pertumbuhan di awal kehidupan. Pada Perang Dunia II, wanita-wanita Belanda yang mengalami kurang gizi dan gizi buruk akibat kelaparan, melahirkan bayi-bayi dengan berat badan lahir rendah dan memiliki risiko tinggi terhadap obesitas, sindrom metabolisme, dan diabetes pada usia dewasa.” paparnya.
Kasus internasional juga menunjukkan Vitamin D sebagai salah satu zat gizi yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan anak-anak. Pada abad sembilan belas terjadi insiden penyakit riketsia (pertumbuhan tulang dalam bentuk abnormal) yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, khususnya di daerah perkotaan, yang disebabkan oleh kurang terpaparnya anak-anak pada sinar matahari. Pengobatan yang dilakukan kemudian adalah penggunaan minyak ikan pada abad dua puluh dan penetapan Vitamin D sebagai fortifikasi mentega sejak 1961.
“Meningkatnya penyakit riketsia ternyata menyingkapkan manfaat lain Vitamin D. Selain memperbaiki pertumbuhan tulang, Vitamin D juga berpengaruh terhadap imunitas adaptif,” jelas Dr. Martine Alles.
Asupan rendah Vitamin D, kekurangan (deficiency) Vitamin D, dan ketidakcukupan (insufficiency) Vitamin D tidak hanya terjadi pada anak-anak di Eropa, tetapi juga di Asia. Indonesia termasuk negara yang menunjukkan prevalensi kekurangan Vitamin D pada anak yang cukup tinggi. Studi SEANUT Indonesia 2013 menunjukkan prevalensi kekurangan Vitamin D pada anak-anak Indonesia berumur 2-4,9 tahun adalah sebesar 42,8% di desa dan 34,9% di kota.
Sedangkan Prof Hardinsyah, M.S, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia Institut Teknologi Bogor, menambahkan, masalah gizi di Indonesia juga masih memprihatinkan, terlihat dari jumlah balita bertumbuh pendek (stunting) akibat kekurangan gizi di Indonesia masih tinggi yang mencapai 37,2 persen atau 8,8 juta balita Indonesia pada 2013.
“Pemenuhan gizi seimbang terutama bagi calon ibu hamil, Bumil, Busui dan Balita terus diperlukan. Terutama difokuskan pada zat gizi yang masih defisiensi seperti protein, asam lemak esensial, zat besi, kalsium, yodium, zink, vit A, vit D dan asam folat,” ujarnya.
Melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019, Peningkatan Kesehatan Ibu & Anak serta Perbaikan Status Gizi Masyarakat telah ditetapkan sebagai dua dari sepuluh isu strategis nasional dan arah pembangunan kesehatan dalam lima tahun ke depan.
Arif Mujahidin, Head of Corporate Affairs Sarihusada mengatakan, “Sebagai perusahaan yang didirikan enam puluh tahun lalu dengan misi memperbaiki gizi anak bangsa, Sarihusada terus berkomitmen untuk mendukung upaya perbaikan gizi yang dilakukan Pemerintah melalui peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi ibu-anak. Nutritalk adalah salah satu diskusi rutin yang kami selenggarakan untuk menyebarkan pengetahuan gizi kepada masyarakat luas."
“Kami berharap apa yang disampaikan dalam Nutritalk kali ini dapat digunakan sebagai masukan dan referensi bagi pengembangan solusi perbaikan gizi untuk membangun generasi bangsa Indonesia yang semakin berkualitas,” tandas Arif
Seperti diketahui, Pemenuhan gizi pada awal kehidupan sangat penting bagi pertumbuhan positif generasi penerus bangsa di berbagai negara.
Di Indonesia, pemenuhan gizi dapat difokuskan pada zat gizi yang mana masih ditemukan kondisi defisiensinya yaitu Protein, Aaam lemak esensial, zat besi, kalsium, yodium, zink, vitamin A dan D serta asam folat.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap perkembangan pemenuhan gizi pada awal kehidupan sebagai modal untuk membangun hidup sehat, cerdas, dan produktif bagi generasi mendatang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/belanda-mendokumentasikan-perubahan_20150322_151707.jpg)