Eksklusif Tribunnews

Cita-cita Davi Beri Kontribusi untuk Sesama Orang dengan HIV

Davi berupaya memanfaatkan hidupnya untuk masyarakat, khususnya sesama orang dengan HIV/AIDS (ODHA)

Cita-cita Davi Beri Kontribusi untuk Sesama Orang dengan HIV
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sepi Maulana Ardiansyah (28), Pengidap HIV/AIDS berpose usai wawancara khusus dengan Tribunnews.com di Jakarta, Selasa (26/11/2019). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan wartawan Tribun Network Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sambil duduk di atas sofa hitam yang empuk, Sepi Maulana Ardiansyah mencoba mengingat masa-masa 10 tahun lalu. Itu adalah masa di mana dia harus menerima kenyataan positif terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV).

Sesekali pria yang akrab disapa Davi ini menatap ke dinding rumah bercat putih di sebuah gang kecil di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Davi mengingat momen yang terjadi saat dia masih berusia 17 tahun.

Pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru di sekolahnya membuat kehidupan Davi berubah drastis. Rasa takut dan tidak percaya diri merasuki dirinya. Ancaman dikeluarkan dari sekolah hingga dilaporkan ke orangtua terus terngiang di benaknya.

Davi kemudian memutuskan untuk meninggalkan sekolahnya. Dia juga meninggalkan keluarganya di Cianjur, Jawa Barat. Dia memilih melangkahkan kaki ke Jakarta.

Selama dua tahun Davi bergelut dengan dunia malam di Jakarta. Davi memilih untuk terjun ke lembah hitam sebagai pekerja seks komersial.

Suatu ketika dia mendapatkan penyuluhan dari Lembaga Swadaya Masyarakat Intermedika soal bahaya perilaku seks menyimpang. Pada penyuluhan itu pula Davi tertantang untuk mengikuti tes HIV.

"Keesokan harinya mengikuti tes. Pertama kali tes usia 19 tahun dan pertama kali itu juga tahu HIV positif," tutur Davi kepada Tribun Network, Selasa (26/11/2019).

Sepi Maulana Ardiansyah (28), Pengidap HIV/AIDS berpose usai wawancara khusus dengan Tribunnews.com di Jakarta, Selasa (26/11/2019). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sepi Maulana Ardiansyah (28), Pengidap HIV/AIDS berpose usai wawancara khusus dengan Tribunnews.com di Jakarta, Selasa (26/11/2019). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Davi merasa terkejut mengetahui dirinya positif HIV. Pikirannya tidak karuan, meski saat itu dia tidak paham betul bahaya dari virus tersebut. Pengetahuannya soal HIV belum luas.

"Waktu tahu positif, aku keluar dari klinik terus bilang ke pendamping LSM, 'Kak, gua positif.' Dia bilang, 'Jangan bilang-bilang. Jangan berisik.' 'Memang kenapa kalau positif?'," kata Davi.

Baca: Dankjoedin Berlari Suarakan Antidiskriminasi kepada Orang dengan HIV

Halaman
123
Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Deodatus Pradipto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved