Virus Corona
Ada Skenario New Normal Covid-19, Pengamat: Pemerintah Bingung Mau Menanganinya Bagaimana
“Jadi menurut saya ini memang di mana Pemerintah kurang mampu menangani Covid-19, jadi (kebijakannya) agak gagap kebingungan.
Editor:
Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Pemerintah Indonesia belakangan ini menggaungkan istilah new normal atau pola hidup normal versi baru. New normal yang dimaksud yakni menitikberatkan perubahan budaya masyarakat untuk berperilaku hidup sehat di tengah pandemi Covid-19 atau beradaptasi dengan Covid-19.
Padahal kasus Covid-19 di Indonesia sendiri sampai saat ini masih belum terlihat ujungnya. Saat penerapan new normal nanti, beberapa sektor kegiatan yang tadinya ditutup diindikasi akan dibuka kembali.
Menanggapi hal itu, Analis Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah menilai itu merupakan pertanda Pemerintah kurang mampu menangani Covid-19.
“Jadi menurut saya ini memang di mana Pemerintah kurang mampu menangani Covid-19, jadi (kebijakannya) agak gagap kebingungan. Bingung mau menanganinya bagaimana,” ucap Trubus saat dihubungi Kompas.com, Selasa (19/5/2020).
Baca: Viral 247 Awak Pramugari Batik Air Ajukan Petisi THR, Begini Tanggapan Lion Air Group
Menurut Trubus, penyebaran kasus Covid-19 justru akan semakin masif jika beberapa sektor usaha dibuka kembali.
Bahkan khawatirnya tidak bisa lagi terkontrol karena pergerakan masyarakat begitu tinggi.
Baca: Yakin Dapat Obati Covid-19, Donald Trump Minum Obat Malaria Setiap Hari
Buktinya, di dalam transportasi commuterline yang telah diterapkan sistem protokol pencegahan Covid-19 saja masih ditemukan kasus baru dengan status orang tanpa gejala (OTG). Apalagi ketika sektor usaha yang sebelumnya ditutup dibuka kembali.
Baca: Menu Opor dan Rendang Tidak Baik Dipanaskan Berulang Kali, Ini Efek Buruknya Buat Kesehatan
"Masalah Covid-19 ini malah jadi sulit tertangani meskipun pakai protokol Covid-19 karena bisa jadi banyak muncul OTG baru,” kata Trubus.
Menurut dia, penyebaran OTG ini malah lebih berbahaya dari pasien positif Covid-19 biasanya.
Sebab OTG bisa saja menjadi carrier atau pembawa ke siapa saja, tetapi tak terdeteksi karena tak menimbulkan gejala.
“OTG ni malah rentan mengenai sanak saudara istrinya. Meski normal tapi nantinya kita menderita, lalu kondisi gagap bingung muncul menjadi panik,” kata dia.
Ia mengatakan, sampai saat ini kasus Covid-19 terus meningkat tajam tiap harinya. Apalagi nantinya diprediksi ada puncak gelombang kedua kasus Covid-19.
Hal itu sangat kontradiktif dengan kebijakan Pemerintah yang hendak menerapkan hidup new normal.
“Ini kebijakannya kontradiktif dengan penyebaran Covid-19 yang meningkat,” ujar Trubus.
Pasalnya saja dalam 24 jam sejak Senin (18/5/2020) hingga Selasa (19/5/2020) pukul 12.00 WIB ada 486 kasus baru Covid-19 di Indonesia.