Efek Gas Air Mata pada Kesehatan, Dampak pada Anak-anak Jauh Lebih Berat
Gas air mata merupakan alat yang sering digunakan aparat untuk memukul mundur atau membubarkan massa jika aksi unjuk rasa diwarnai kericuhan.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Willem Jonata
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gas air mata merupakan alat yang sering digunakan aparat untuk memukul mundur atau membubarkan massa saat aksi demonstran atau pengunjuk rasa mulai ricuh.
Seperti unjuk rasa di areal gedung DPR RI, beberapa wilayah Jakarta dan sejumlah daerah di Indonesia, Jumat (29/8/2025).
Efeknya pada kesehatan bukan hanya pada mata tetapi gas air mata bekerja dengan mengiritasi selaput lendir di hidung, mulut hingga paru-paru.
Baca juga: Demo Berujung Bentrok di Berbagai Wilayah di Indonesia, Korban Tewas Bertambah
Dokter Spesialis Anak, dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A menuturkan, efek gas air mata jauh lebih berat dirasakan anak-anak ketimbang orang dewasa.
Dampak gas air mata pada anak-anak terutama bayi bisa menyebabkan kondisi yang berbahaya, mengingat ukuran tubuh bayi yang lebih kecil, frekuensi napas yang lebih cepat, hingga respon stres kardiovaskular yang belum cukup kuat.
"Efek gas air mata pada bayi jauh lebih cepat terjadi dan lebih berbahaya dibanding pada dewasa," kata dia mengutip X atas izin yng bersangkutan, Sabtu (30/08/2025).
Dengan demikian, Dokter lulusan UGM ini berharap orang tua bisa menjauhkan anak-anak dari paparan gas air mata.
Diketahui, ada sejumlah bahan kimia yang terkandung dalam gas air mata seperti chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA) dan dibenzoxazepine (CR).
Pulmonologi Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangannya menyampaikan sejumlah efek gas air mata pada kesehatan.
Gas Air Mata saat Mengenai Mata Bisa menimbulkan:
- Perih;
- Mata berair;
- Gatal;
- Terasa terbakar di mata, mulut dan hidung;
- Pandangan kabur;
- Kesulitan menelan;
- Reaksi alergi;
Gas Air Mata pada Saluran Napas
Biasanya gas air mata yang dilontarkan turut terhirup masuk ke saluran napas.
Jika terlalu banyak terhirup maka bisa menimbulkan gejala akut di paru dan saluran napas berupa:
- Dada berat;
- Batuk;
- Tenggorokan seperti tercekik dan bising;
- Nafas mengi;
- Sesak napas.
"Pada keadaan tertentu dapat terjadi gawat napas (respiratory distress)," kata Prof Tjandra.
Apalagi jika mereka yang sudah punya penyakit asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) maka kalau terkena gas air mata maka dapat terjadi serangan sesak napas akut yang bukan tidak mungkin berujung di gagal napas (respiratory failure).
Meskipun dampak utama gas air mata adalah dampak akut yang segera timbul, ternyata pada keadaan tertentu dapat terjadi dampak kronik berkepanjangan.
Kondisi ini terjadi jika paparan berkepanjangan, dalam dosis tinggi dan apalagi kalau di ruangan tertutup.
(Tribunnews.com/ Rina Ayu)
Omara Esteghlal Miris Lihat Gaji Guru Honorer, Butuh 28 Tahun Samai Tunjangan Bulanan Anggota DPR |
![]() |
---|
Prilly Latuconsina dan Omara Sebut Kemarahan Rakyat karena DPR Minus Empati |
![]() |
---|
Di Tengah Kritik untuk DPR, Tasya Kamila Blak-blakan Alasan Ogah Nyaleg: Takut Jual Moral |
![]() |
---|
Demo Berujung Bentrok di Berbagai Wilayah di Indonesia, Korban Tewas Bertambah |
![]() |
---|
Aksi Nekat Pendemo di Kwitang: Panjat Tiang Listrik Saat Gerimis, Tendang Kamera CCTV |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.