Sering Sakit Kepala Hebat, Disarankan Pakai Teknologi DSA untuk Deteksi Dini Stroke
S akit kepala tiba-tiba, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, hingga gangguan bicara bisa menjadi tanda awal yang tidak boleh diabaikan.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Willem Jonata
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi stroke mencapai 10,9 persen pada kelompok usia di atas 15 tahun.
Gangguan pembuluh darah otak, baik akibat penyumbatan (stroke iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (perdarahan otak), kerap muncul mendadak tanpa gejala jelas.
Padahal, sakit kepala tiba-tiba, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, hingga gangguan bicara bisa menjadi tanda awal yang tidak boleh diabaikan.
Baca juga: Kekurangan Dokter Saraf di Tengah Lonjakan Kasus Stroke, Indonesia Hadapi Krisis Neurologi
Untuk mendeteksi lebih dini, Digital Subtraction Angiography (DSA) hadir sebagai teknologi pencitraan medis yang mampu menampilkan kondisi pembuluh darah otak secara detail.
Berbeda dengan CT Scan atau MRI, DSA dapat menghilangkan bayangan tulang dan jaringan sekitar sehingga aliran darah otak terlihat lebih jelas.
“Pemeriksaan DSA memberikan informasi yang sangat detail terkait kondisi pembuluh darah otak. Hal ini sangat membantu kami dalam merencanakan terapi terbaik, baik untuk pencegahan maupun penanganan kasus vaskular kompleks,” jelas Dr dr Harsan Sp BS K, MKes, Dokter Spesialis Bedah Saraf Sub Spesialis Neurovaskular di Siloam Hospitals Lippo Village, Jumat (29/8/2025).
Dengan teknik ini, dokter dapat mendeteksi penyempitan atau penyumbatan, aneurisma (pelebaran pembuluh darah) yang berisiko pecah, serta kelainan arteriovenous malformation (AVM).
Siapa yang Perlu Menjalani DSA?
DSA direkomendasikan bagi pasien dengan: sakit kepala hebat mendadak atau pusing berulang, riwayat stroke atau stroke ringan (TIA), kelemahan tubuh mendadak atau gangguan bicara, hasil CT Scan/MRI yang mencurigakan dan riwayat keluarga dengan aneurisma atau kelainan vaskular otak.
Selain itu, penderita hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan perokok aktif juga disarankan melakukan pemeriksaan DSA sebagai upaya pencegahan.
Keunggulan DSA di Siloam Hospitals Lippo Village terletak pada pendekatan minimal invasif. Prosedur dilakukan dengan sayatan kecil sehingga risiko komplikasi lebih rendah, nyeri pasca tindakan lebih ringan, dan waktu pemulihan lebih singkat.
“Pendekatan minimal invasif memberikan banyak keuntungan bagi pasien. Mereka bisa pulih lebih cepat dan kembali ke aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang lebih baik,” tambah Dr. Harsan.
Sebagai salah satu rumah sakit terbaik di Indonesia, Neuroscience Center Siloam Hospitals Lippo Village dilengkapi teknologi pencitraan canggih dan tim multidisiplin yang terdiri dari dokter bedah saraf, neurologi, serta radiologi intervensi.
Ketika Robot Gantikan Terapi Manual: Masa Depan Rehabilitasi Sudah Tiba? |
![]() |
---|
Kekurangan Dokter Saraf di Tengah Lonjakan Kasus Stroke, Indonesia Hadapi Krisis Neurologi |
![]() |
---|
Jantung Jadi Penyakit dengan Biaya Berobat Termahal, Tembus Rp 19,2 Triliun |
![]() |
---|
Mengapa Serangan Stroke Berulang Bisa Berakibat Fatal? |
![]() |
---|
Hamdan ATT Pergi dengan Tenang dan Jawaban Doa Aisyah |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.