Breaking News:

Penanganan Covid

Ahli Jelaskan Pembuatan Vaksin Dapat Dipercepat dengan Teknologi

Keraguan masyarakat terkait vaksin akhir-akhir ini meningkat, lantaran pengetahuan tentang seluk beluk vaksin memang bukan konsumsi orang awam.

Vincenzo PINTO / AFP
Seorang teknisi laboratorium menangani botol sebagai bagian dari tes pengisian dan pengemasan untuk produksi skala besar dan pasokan kandidat vaksin COVID-19 Universitas Oxford, AZD1222 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Keraguan masyarakat terkait vaksin akhir-akhir ini meningkat, lantaran pengetahuan tentang seluk beluk vaksin memang bukan konsumsi orang awam.

Ahli Virologi Universitas Udayana, Prof. Ngurah Mahardika menjelaskan, teknologi, sumber daya, dan infrastrukturnya dalam penciptaan vaksin hanya diketahui segelintir orang yakni peneliti dan produsen vaksin itu sendiri, maupun komunitas ilmuan.

Hal itulah juga menimbulkan kekhawatiran masyarakat, apakah bisa vaksin dalam waktu singkat dibuat.

“Zaman dahulu tentu harus dapat agennya dulu yang murni. Setelah itu diperbanyak, dan kemudian baru disiapkan sebagai vaksin. Itu yang menempuh waktu yang lama. Zaman sekarang, teknologi telah memungkinkan kita melakukannya dengan cepat. Tidak perlu lagi agen penyakit dan bisa dibuat sintetis, jadi bisa sangat cepat. Zaman dahulu perlu waktu lama untuk menemukan bibitnya saja. Zaman sekarang hanya perlu waktu satu dua bulan saja untuk menemukan bibitnya,” jelas Prof. Ngurah Mahardika beberapa waktu lalu.

Ia memaparkan, sedikitnya ada empat ragam vaksin yang dibedakan berdasarkan bahan dasarnya.

Baca juga: Vaksinolog Jelaskan Rumitnya Proses Pembuatan Vaksin, Keamanan Nomor 1, Kedua Efektivitas

Baca juga: Soal Kekhawatiran Publik Terhadap Keamanan Vaksin, Epidemiolog: Pemerintah Sudah Punya Pengalaman

Pertama yang berbasis virus murni yang dimatikan sehingga tidak berbahaya bagi manusia, ada pula yang berbasis DNA atau mRNA, ketiga ada vaksin berbasis adenovirus, dan terakhir adalah vaksin berbasis protein.

“Ragam basis vaksin ini punya kelebihan dan kekurangan tentunya, seperti vaksin berbasis virus yang dimatikan yang saat ini diujicobakan di Indonesia adalah jenis paling lazim, sehingga regulasi penggunaanya jauh lebih ringkas," jelas dia.

Sementara untuk vaksin berbasis DNA dan adenovirus memang belum ada contohnya yang beredar di masyarakat sehingga regulasinya memakan waktu lama.

Meski teknologi mengakselerasi penemuan vaksin baru, ia memastikan faktor kunci yang tidak boleh dikesampingkan dalam prosedur adalah, memastikan tingkat keamanannya.

Halaman
12
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved