Breaking News:

Tidak Perlu Takut Khitankan Anak di Masa Pandemi, Berikut Penjelasannya

Anak mendapatkan waktu yang cukup untuk masa pemulihan jika melakukan khitan di masa pandemi seperti sekarang

Tribunnews/Aisyah
Anak mendapatkan waktu yang cukup untuk masa pemulihan jika melakukan khitan di masa pandemi seperti sekarang 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Biasanya menjelang liburan panjang saat pergantian ajaran baru, para orangtua memanfaatkan momen untuk menyunatkan anak-anak mereka. Namun di masa pandemi Covid-19 saat ini, tentu masih ada kekhawatiran tersendiri. 

Padahal, sebetulnya di masa pandemi Covid-19 yang mulai menjalankan new normal ini, khitan atau sunat malah lebih nyaman dilakukan. Ini karena sang anak kebanyakan menjalani aktivitas di rumah, termasuk kegiatan belajar. 

Anak mendapatkan waktu yang cukup untuk masa pemulihan. Namun tentu yang menjadi hal utama selama sunat adalah keamanannya. Seiring berjalannya waktu, pusat kesehatan dan pelayanan sunat mulai menyesuaikan dengan peraturan baru. 

Salah satunya Rumah Sunat dr Mahdian ini. Dimana mereka telah menyesuaikan prosedur sunat dengan kebijakan pemerintah. Pertama aturan yang diberlakukan adalah mengurangi terjadinya kerumunan. 

Baca juga: NU Care-LAZISNU Gelar Operasi Katarak dan Khitanan Gratis

Maksimal hanya tiga orang yang mengunjungi tempat sunat ini. Satu orang akan sunat, sisanya orang yang akan menemani. 

Biasanya yang seringkali menemani adalah orangtua atau saudara. Selain itu, pendaftaran juga dapat dilakukan via online. Hal ini dapat meminimalisir terjadinya.

Baca juga: Unik, Wajah Zaenal Sumigrah Disunat di Puncak Gunung

"Pendaftaran via online sudah ada sejak dulu yaitu datang langsung. Namun sejak adanya pandemi, pendaftaran sunat lebih banyak ke online," ungkap karyawan Rumah Sunat dr Mahdian saat diwawancarai Tribunnews, Sabtu (5/6/2021).

Baca juga: Irwansyah dan Zaskia Sungkar Tak Tega, Tapi Demi Kesehatan, Ukkasya Disunat Saat Usianya 22 Hari

Roby mengatakan jika setiap pegawai sudah melakukan tes swab setiap tiga bulan sekali. Setiap perawat dan dokter mengenakan pakaian khusus.

Semua mediator sunat dilakukan disefektan dan penyinaran UV. Tidak lupa pula, setiap pengunjung diwajibkan untuk mengunakan masker.

Menurut Roby, saat awal pandemi Covid-19, pelayanan sunat ini cukup terdampak. Hal ini disebabkan karena banyak yang takut untuk keluar rumah. Pengunjung yang biasanya bisa mencapai 80 orang sehari, kala itu menurun amat drastis hingga belasan orang perharinya.

Namun saat ini, situasi mulai membaik. Pengunjung mulai berdatangan. Hanya saja siklusnya jauh berbeda. Dahulu kerap terjadi penumpukan pendaftar di momen tertentu. Kini, orang-orang yang daftar datang secara merata dan tidak ada penumpukan.

"Awal pandemi memang ada penurunan. Cuma sekarang lebih baik. Bedanya, dahulu pasien numpuk pas libur. Kalau sekarang karena belajar diadakan di rumah, pengunjung yang datang ngalir, numpuk di bulan itu aja," katanya lagi. 

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved