Nyeri Punggung dan Pinggang Bisa Serang Usia Muda, Begini Cara Obati Low Back Pain

Dengan pola hidup yang tidak sehat, penyakit low back pain, sekarang ini tidak hanya menyerang lansia, tapi juga kamu yang masih berusia muda.

Getty Images
nyeri punggung 

TRIBUNNEWS.COM – Dengan pola hidup yang tidak sehat, seperti kurang berolahraga atau terlalu lama duduk, ancaman penyakit yang menyerang area punggung hingga ke pinggang atau istilahnya low back pain, sekarang ini tidak hanya menyerang lansia, tapi juga kamu yang masih berusia muda.

Tidak jarang keluhan nyeri punggung dan leher terjadi akibat pekerjaan. Aktivitas  karyawan yang terlalu lama duduk di depan komputer atau mengangkat beban cukup berat, membuat mereka beresiko besar terserang low back pain sehingga akhirnya harus izin sakit dan absen dari kantor.

Nyeri di pinggang, tidak bisa bergerak leluasa, otot tegang, pusing hingga kesemutan, adalah keluhan-keluhan yang sering kamu rasakan sebagai karyawan kantoran.

“Low Back Pain sesuatu yang berbeda. Low back pain 80-90 persen terjadi otot dan ligamen,” kata Dokter Spesialis Ortopedi dr. Nicko Perdana Hardiansyah, Sp.OT (K) Spine.

Lebih lanjut lagi, dr. Nicko, gejala Low Back Pain dan cara pengobatannya ditentukan dengan tingkat keparahan gejala yang dialami pasien. Jika keluhan gejala ringan, pasien hanya perlu istirahat.

“Maka kami selalu berikan edukasi kepada pasien bagaimana peregangan atau stretching yang baik,” ungkapnya. 

Menurut dr. Nicko, kini prevalensi pasien low back pain sudah bergeser ke usia lebih muda, gen-Z dan milenial di usia 30-40 tahun, bahkan beberapa kasus menyerang usia 20 tahun. Hal ini dikarenakan gaya hidup dan terlalu banyak duduk saat bekerja di depan layar.

“Idealnya, umumnya duduk setelah 30 menit harus stretching boleh kombinasi ringan dengan gerakan sederhana atau berdiri. Begitu juga saat di mobil, ada cara peregangan yang benar,” paparnya. 

Meski begitu, kata dr. Nicko, keluhan setiap pasien berbeda. Karena itu, dalam pengobatan pun masing-masing pasien berbeda. Dia juga menuturkan sekitar 80-90 persen akan sembuh dengan sendirinya, tanpa intervensi aneh-aneh.

Lantas, kapan pasien low back pain perlu ke Dokter?

Kendati bisa sembuh dengan sendirinya, menurut dr. Nicko, terdapat beberapa kasus yang menjadi alarm atau red flag yang menjadi sinyal kapan pasien harus segera ke dokter. Apa saja tanda-tandanya?

Salah satu tanda yang paling mudah diketahui adalah nyeri punggung yang sudah mengganggu jam tidur, terjadi penurunan kekuatan otot, nyeri menjalar, yang bahkan bisa mengganggu ketika berjalan.

“Pastikan keluhan Anda tak disertai gangguan terhadap buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) hingga gangguan seksual. Ketika itu terjadi, belum tentu bahaya tapi ada something wrong,” paparnya. 

Untuk gejala low back pain yang anak muda harus sadari, antara lain; pegal-pegal di bagian pinggang bawah (nyeri lokal), biasanya diperberat aktivitas, nyeri terasa berkurang ketika istirahat dan rasa sakit yang membuat tidak nyaman.

Faktor risiko low back pain

1. Usia kisaran 20-40 tahun

2. Riwayat jatuh

3. Berat badan berlebih

4. Posisi dominan membungkuk

5. Terlalu sering mengangkat benda yang berat

Faktor lain pemicu low back pain

a. Herniated Nucleus Pulposus

Herniated Nucleus Pulposus alias saraf terjepit sering terjadi di bagian belakang. Saraf bagian belakang lebih rentan mengalami cedera, sehingga kamu harus lebih hati-hati karena risiko sangat besar untuk terjadi robekan pada bagian luar saraf atau seperti rasa ketarik alias terjepit.

b. Spinal stenosis

Penyempitan tulang belakang atau istilahnya spinal stenosis adalah kondisi ketika tulang belakang menyempit. Tekanan pada sumsum tulang belakang juga saraf di sekitarnya bisa menyebabkan mati rasa, kram, serta sakit pinggang belakang.

c. Abnormal spine

Abnormal spine adalah lekukan tulang belakang yang tidak normal yang terdiri dari beberapa jenis seperti skoliosis, kifosis atau lordosis. Lengkungan yang tidak normal pada tulang belakang bisa memberikan tekanan berlebih pada otot, tendon, ligamen yang menyebabkan sakit pinggang belakang.

d. Arthritis

Arthritis atau lebih akrab disebut radang sendi pada area persendian tulang panggul biasanya diawali dengan robekan kecil. Dari robekan kecil itulah yang menimbulkan rasa nyeri.

Tata laksana pasien low back pain

Pasien datang ke dokter umumnya mengeluhkan nyeri di bagian pinggang dan punggung saat mengunjungi dokter. Setelah itu, dokter akan melakukan asesmen atau pemeriksaan apa saja faktor risiko dan pemicunya.

“Setelah dianalisis paling banyak ternyata karena pengaruh aktivitas di tempat kerja atau sering angkat berat,” jelasnya. 

Biasanya, dokter akan memberikan obat-obatan ringan seperti pain killer, pelemas otot hingga fisioterapi untuk pertolongan pertama pada pasien.

“Pada pasien-pasien berat, bisa dilakukan penyuntikan, radiofrekuensi, hingga jalan terakhir adalah pembedahan hanya sekitar 3-5 persen pasien,” jelasnya. 

Untuk pertolongan pertama di rumah, pasien bisa juga langsung menggunakan obat oles, atau mengonsumsi pereda nyeri seperti paracetamol di tahap awal.

Pengobatan low back pain di Mayapada Hospital

Mayapada memberikan solusi untuk mengatasi nyeri pada daerah tulang belakang dengan terapi yaitu;

1. Heating: IRR/SWD/MWD

Heating adalah suatu bentuk pemanasan dengan modalitas tertentu seperti IRR, SWD, MWD yang digunakan sesuai dengan kebutuhan kondisi pasien.

2. TENS

Tens merupakan alat elektrikal terapi yang menghasilkan gelombang mekanik/getar dengan frekuensi tertentu.

3. Ultrasound

Sementara Ultrasound merupakan salah satu modalitas terapi yang berbentuk gelombang suara, menghasilkan efek micro massage pada jaringan yang diobati.

4. Excercise/Terapi Latihan

Exercise atau terapi latihan dilakukan dengan menggunakan bermacam-macam metode dari massage (efflurage, friksen, palm kneeding dan sebagainya), terapi latihan dari stretching, strengthening dan isometrik, serta Aktive Exercise.

Teknologi endoskopi di Mayapada Hospital

Di Mayapada Hospital, tedapat juga tindakan menggunakan BESS atau Biportal Endoscopic Spine Surgery. Teknologi endoskopi ini akan membuat pasien lebih merasa nyaman.

"Permasalahan tulang belakang yang disebabkan oleh jepitan saraf kini tidak perlu dilakukan operasi bedah terbuka. Tindakan BESS adalah tindakan minimal invasif menggunakan alat endoskopi untuk mengatasi masalah tulang belakang," ujar dr. Nicko.

Dengan prosedur minimal invasif, risiko komplikasi sangat minimal, dan waktu pemulihan lebih cepat, membuat BESS aman untuk pasien lansia.

Teknologi ini juga memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dengan sayatan minimal dan durasi perawatan singkat, yang membuat pasien terbebas dari keluhannya, sehingga bisa segera beraktivitas kembali pasca tindakan.

Tim Dokter Orthopedic Center Konsultan Spine Mayapada Hospital:

Mayapada Hospital memiliki Orthopedic Center yaitu layanan komprehensif untuk menangani gangguan pada tulang, sendi dan otot, seperti gangguan pada tulang belakang, lutut, panggul, tangan dan kaki.

Dengan didukung tim Dokter Spesialis Orthopedi dari berbagai subspesialisasi, Orthopedic Center Mayapada Hospital mampu menangani beragai kasus seperti ganggungan tulang belakang, penggantian sendi lutut dan panggul, cedera ligamen, tulang dan otot secara minimal invasif, termasuk cedera olahraga.

- Dr. Rizal pohan, SpOT(K)Spine, Mayapada Hospital Tangerang

- Dr. Starifulkani Arif, SpOT(K)Spine, Mayapada Hospital Jakarta Selatan

- Dr. Nicko Perdana Hardiansyah, SpOT(K) Spine, Mayapada Hospital Kuningan

- Dr. Putu Bagus Didiet Khresna Wibawa, SpOT(K)Spine Mayapada Hospital Kuningan

- Dr. Harun Rosidi, SpOT(K)Spine Mayapada Hospital Bogor

Bagi kamu atau kerabat kamu mengalami gangguan pada tulang, nyeri punggung dan pinggang, segera lakukan penanganan langsung ke Mayapada Hospital. Jika ingin berkonsultasi dengan dokter Mayapada Hospital di atas, kamu bisa klik link ini.

Admin: Sponsored Content
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved