Minggu, 31 Agustus 2025

Remaja Alami Ilusi Pemicu Maraknya Pernikahan Dini, Jadi Masalah Serius

Di media sosial banyak para remaja memposting kesiapan mereka untuk menikah di usia muda. Fakta dari anak muda tersebut karena adanya ilusi kedewasaan

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
Kompas.com
MARAK PERNIKAHAN DINI - Ilustrasi pernikahan dini. Pernikahan di usia muda belakangan marak terjadi. Bahkan di media sosial banyak para remaja memposting kesiapan mereka untuk menikah di usia muda. Menurut Psikolog Keluarga, Anna Surti Ariani S.Psi, M.si kemunculan fakta mengejutkan dari anak muda tersebut karena adanya ilusi. Anna menyebut banyak remaja merasa sudah dewasa dan mampu menyelesaikan masalah sendiri. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pernikahan di usia muda alias pernikahan dini belakangan marak terjadi. Bahkan di media sosial banyak para remaja memposting kesiapan mereka untuk menikah di usia muda.

Baca juga: Angka Putus Sekolah Jenjang SMA Mencapai 20 Persen, Penyebabnya karena Pernikahan Dini

Menurut Psikolog Keluarga, Anna Surti Ariani S.Psi, M.si kemunculan fakta mengejutkan dari anak muda tersebut karena adanya ilusi. Anna menyebut banyak remaja merasa sudah dewasa dan mampu menyelesaikan masalah sendiri.

Hal tersebut dikenal dalam psikologi perkembangan sebagai ilusi kedewasaan, yaitu perasaan mampu menyelesaikan berbagai persoalan secara matang. 

"Jadi ternyata ada ilusi kedewasaan. Ini adalah perasaan sudah dewasa, sudah mampu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan secara matang, tapi ternyata belum," kata Anna pada talkshow kesehatan, Selasa (15/7/2025).

Anna menjelaskan, secara neurologis bagian otak prefrontal cortex yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan, pengendalian diri, dan pertimbangan risiko baru matang di usia sekitar 20-an. 

Karena itu, remaja di bawah usia tersebut cenderung memiliki pola pikir yang impulsif dan optimistis secara berlebihan. Menurut Anna, banyak remaja merasa mampu menghadapi pernikahan hanya karena sudah terbiasa mengelola waktu atau uang sendiri. 

Baca juga: Tidak Sampai Setahun, Pernikahan Remaja Kevin dan Tante Mariana di Sambas Berakhir Cerai

Namun kenyataannya, kehidupan rumah tangga tantangannya jauh lebih kompleks. Termasuk konflik emosional, tekanan ekonomi, dan tanggung jawab jangka panjang yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan semangat sesaat.

Dalam banyak kasus, keyakinan bahwa hubungan pacaran yang lama adalah bekal cukup untuk menikah juga keliru. Pengalaman pacaran tidak otomatis mengajarkan keterampilan menyelesaikan konflik, mengelola stres, atau berkomunikasi efektif yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan pernikahan.

“Kesiapan emosional yang dibutuhkan untuk pernikahan jauh lebih kompleks daripada sekadar pengalaman pacaran,” ujar Anna.

Adanya hasrat ingin menikah muda tersebut kini justru semakin mengkhawatirkan karena sebagian remaja bahkan sudah terlibat dalam hubungan seksual sebelum menikah dan menjadikan pernikahan sebagai solusi dari tekanan sosial

Namun menurut Anna, ini justru memindahkan masalah sosial ke pundak anak itu sendiri. Dampaknya pun sangat serius. 

Tanpa kesiapan psikologis, pendidikan yang memadai, serta dukungan sosial yang kuat, remaja yang menikah dini sangat rentan mengalami stres berat, depresi, keterasingan sosial, hingga munculnya pikiran untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri.

“Pernikahan dini itu justru bentuk pemindahan masalah sosial, masalah besar, menjadi beban pribadi si anak remaja ini. Jadi pernikahan itu bukan perlindungan kalau dijalani tanpa kesiapan psikologis,” ujar Anna. 

Lebih jauh, pernikahan dini juga bisa berdampak pada generasi berikutnya.​ Anak-anak yang dilahirkan dari pasangan usia muda kerap menghadapi pola pengasuhan yang belum matang, lingkungan keluarga yang tidak stabil, serta risiko putus sekolah dari orang tuanya. 

Baca juga: Mantan Panitera dan Pegawai KUA Sumedang Palsukan Surat Dispensasi Pernikahan Dini: Tarif Rp1,5 Juta

Hal ini berpotensi memperpanjang rantai masalah antargenerasi, dan menurunkan kualitas hidup anak di masa depan. Anna pun mengingatkan para orang tua dan masyarakat agar tidak menjadikan pernikahan dini sebagai solusi atas kekhawatiran terhadap pergaulan bebas. 

Sebaliknya, diperlukan pendekatan edukatif dan dukungan moral untuk membimbing remaja agar siap menjalani hidup secara bertahap, tanpa terburu-buru menghadapi peran yang belum mereka pahami sepenuhnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan