Demo di Jakarta
Imbas Demo, Disnaker DKI Imbau Perusahaan Terapkan WFH
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan Surat tentang Himbauan Bekerja dari Rumah (Work From Home).
Penulis:
Farrah Putri Affifah
Editor:
Garudea Prabawati
TRIBUNNEWS.COM - Gelombang demonstrasi besar melanda Jakarta dalam beberapa hari terakhir, dipicu oleh kemarahan publik atas kebijakan tunjangan anggota DPR yang dianggap tidak masuk akal di tengah kondisi ekonomi rakyat yang sulit.
Situasi memanas setelah seorang pengemudi ojek online (ojol) meninggal dunia terlindas mobil rantis Brimob saat kerusuhan terjadi di tengah aksi, memicu gelombang protes lanjutan yang lebih besar dan emosional.
Demonstrasi tersebut telah menyebabkan kemacetan parah, gangguan aktivitas bisnis, serta kerusakan pada berbagai fasilitas umum seperti halte hingga pembatas jalan.
Merespons kondisi ini, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan Surat Edaran Nomor e-0014/SE/2025 tentang Himbauan Bekerja dari Rumah (Work From Home), yang ditujukan kepada seluruh pimpinan perusahaan di wilayah DKI Jakarta.
Himbauan Disnaker DKI Jakarta
Dalam surat edarannya, Disnaker mengimbau agar perusahaan di kawasan terdampak demo:
- Menerapkan sistem kerja dari rumah (Work From Home) bagi karyawan yang tidak harus hadir secara fisik di kantor.
- Untuk sektor pelayanan publik dan operasional 24 jam, perusahaan dapat mengombinasikan sistem WFH dan WFO (Work From Office) secara fleksibel.
- Melaporkan pelaksanaan WFH melalui tautan resmi: https://bit.ly/LaporanWFH-Aksi.
- Langkah ini diambil untuk menjaga keselamatan para pekerja serta memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan meskipun situasi belum kondusif sepenuhnya.
Kronologi Demo Beberapa Hari Terakhir
Baca juga: Respons Demo Ricuh di Berbagai Daerah, Prabowo: Saya Minta Warga Percaya kepada Pemerintah
Pada Senin, 25 Agustus 2025, ribuan massa pertama kali berkumpul di depan Gedung DPR/MPR RI.
Awalnya, fokus utama mereka adalah penolakan terhadap rencana kenaikan tunjangan anggota DPR, yang dinilai tidak peka terhadap kondisi ekonomi rakyat.
Namun, situasi berubah menjadi tegang menjelang siang. Aparat kepolisian berupaya membubarkan massa, yang memicu kericuhan.
Terjadi saling lempar antara demonstran dan aparat, yang berujung pada penggunaan gas air mata dan semprotan air oleh polisi.
Kekacauan ini bahkan meluas hingga mengganggu lalu lintas di jalan tol dan perjalanan KRL, dengan laporan perusakan dan pembakaran ban.
Setelah sempat mereda, aksi kembali memanas pada Kamis, 28 Agustus 2025.
Kali ini, demonstrasi dimulai oleh massa buruh yang menyampaikan tuntutan ekonomi, seperti penghapusan sistem outsourcing dan kenaikan upah minimum.
Aksi buruh berlangsung damai, namun suasana kembali berubah pada sore hari.
Ketegangan kembali memuncak, dan bentrokan tak terhindarkan.
Pada momen inilah sebuah tragedi terjadi yaitu seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat berusaha menyelamatkan diri dari kerumunan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.