IDAI Sebut Masa Remaja Paling Rentan: Sering Ambil Keputusan Berdasarkan Emosional
Sebaliknya dengan bimbingan, kasih sayang dan edukasi yang baik, remaja dapat tumbuh menjadi generasi emas yang sehat, kuat serta berdaya saing besar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama ini banyak orang tua menilai bahwa masa remaja adalah fase paling sehat dan kuat dalam hidup seseorang. Namun faktanya, justru sebaliknya.
Baca juga: Gangguan Mental Dialami 1 dari 7 Remaja, IDAI Ingatkan Bahaya Beban Akademik dan Media Sosial
Menurut Anggota Satgas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Braghmandita Widya Indraswari, M.Sc, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), remaja adalah kelompok yang paling rentan karena sedang mengalami perubahan besar dalam hidupnya.
“Remaja ini kenapa menjadi kelompok yang rentan, remaja ini kelompok yang unik. Tadi dokter Berni juga sudah menyampaikan bahwa kelompok ini yang justru dianggap kelompok yang paling sehat, paling kuat. Padahal ternyata kelompok ini justru sebaliknya, yang paling rentan,” kata dr Braghmandita dalam diskusi media virtual, Selasa (19/8/2025)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan remaja dalam rentang usia 10-19 tahun. Namun, di Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022 dan Peraturan Kesehatan Nomor 25 Tahun 2014, remaja adalah individu berusia 10-18 tahun.
Artinya, jika seorang anak menikah di bawah 18 tahun, statusnya bukan lagi remaja secara hukum. “Di waktu yang sangat singkat ini, terjadi perubahan yang sangat banyak dan juga sangat cepat,” jelas dr Braghmandita.
Perubahan tersebut meliputi fisik, psikologis, kognitif, hingga sosial. Semua itu terjadi hanya dalam rentang sekitar 8-9 tahun, dari usia sekolah dasar hingga memasuki masa kuliah.
Indonesia termasuk negara dengan jumlah remaja yang tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sekitar 44 juta jiwa atau 19,2 persen dari total populasi Indonesia adalah remaja.
Angka tersebut menjadikan isu kesehatan remaja penting untuk diperhatikan. Apalagi, remaja menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah. Oleh karena itu, sekolah bisa menjadi pusat intervensi untuk meningkatkan kesehatan fisik maupun mental remaja.
Baca juga: 20 Persen Remaja Indonesia Kesepian, Berisiko Punya Masalah Kesehatan Mental Saat Dewasa
Dr Braghmandita menjelaskan, remaja dibagi dalam tiga fase. Pertama remaja awal (10-13 tahun) dimana terjadi perubahan biologis besar mulai pubertas, pertumbuhan organ seks sekunder hingga perubahan emosional.
Kemudian remaja tengah (14-16 tahun) ditandai dengan keinginan untuk bereksperimen tetapi kemampuan berpikir abstrak belum matang. Kondisi ini sering memicu perilaku berisiko atau risk taking behavior.
Remaja akhir (17-19 tahun) yakni mulai muncul kemandirian, rasa tanggung jawab, dan pemikiran abstrak yang lebih matang. Secara biologis, otak remaja memang belum matang sepenuhnya.
Salah satunya adalah prefrontal cortex yakni bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan kontrol diri serta baru akan berkembang optimal ketika seseorang dewasa. Sementara itu, sistem limbik bagian otak yang mengatur emosi berkembang lebih cepat.
Akibatnya, remaja sering mengambil keputusan emosional tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang. Hal inilah yang membuat remaja lebih rentan pada perilaku berisiko, termasuk tawuran, penyalahgunaan zat, hingga pergaulan bebas.
Meski penuh tantangan, fase remaja juga menyimpan peluang emas. Penelitian menunjukkan adanya “second window of opportunity” dalam perkembangan otak pada usia remaja.
Dengan pengalaman positif, pola asuh yang tepat dan dukungan lingkungan, jalur otak dapat berkembang lebih sehat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-remaja-dan-dunia-media-sosial.jpg)