Balita Tewas karena Cacingan Akut
Penjelasan Lengkap Kemenkes Terkait Kasus Balita Raya di Sukabumi
Kemenkes memberikan penjelasan terkait kasus balita Raya di Sukabumi yang meninggal dunia setelah sempat berjuang usai cacingan akut.
Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) memberikan penjelasan terkait kasus balita Raya (4) di Kabupaten Sukabumi yang meninggal dunia setelah sempat berjuang dengan kondisi tubuh dipenuhi cacing.
Melalui keterangan tertulis yang diterima, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman membeberkan kasus yang cukup menyita perhatian publik ini.
Baca juga: Kemenkes: Obat untuk Penderita Cacingan Bisa Didapatkan Gratis di Puskesmas
Kemenkes membenarkan, Raya yang tinggal di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat itu terinfeksi cacingan.
“Raya terinfeksi jenis cacing gelang, karena jenis cacing ini ukurannya paling besar, sehingga bisa dilihat dengan mata biasa dan mudah dikenali dengan ukuran berkisar antara 10-35 cm,” kata Aji.
Saat larva, telur dan cacing dewasa masuk ke tubuh maka bisa berkembang biak.
Larva yang menetas di usus halus kemudian menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu terbawa aliran darah ke jantung dan paru hingga bisa menyebabkan terjadinya Pneumonia, dengan gejala batuk, pilek, tidak sembuh dalam waktu lama, bisa keluar cacing dari hidung dan sesak nafas.
Penjelasan Lengkap Kemenkes Soal Kasus Cacingan di Sukabumi
Berikut penjelasan lengkap Kemenkes yang dikutip Tribunnews.com di Jakarta pada Kamis (21/8/2025):
Kecacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia khusus di daerah tropis termasuk di Indonesia.
Ada tiga jenis cacing yang umumnya menginfeksi anak-anak, khususnya usia prasekolah yaitu: Ascaris Lumbricoides (cacing gelang), Ancylostoma Duodenale (cacing tambang) dan Trichiuris Trichiura (cacing cambuk). Infeksi dari cacing yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminths/STH) yaitu cacing yang dalam siklus hidupnya memerlukan tanah untuk berkembang biak.
STH yang banyak di Indonesia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale, Necator americanus).
Cacingan sebabkan gangguan pada intake makanan, pencernaan, penyerapan serta metabolismenya. Secara kumulatif, infeksi cacing atau cacingan dapat menimbulkan kerugian gizi berupa kekurangan kalori dan protein serta kehilangan darah sehingga berdampak pada perkembangan fisik, kecerdasan, dan ketahanan tubuh.
Infeksi cacing gelang, cacing cambuk dan cacing tambang sangat erat dengan kebiasaan defekasi (buang air besar/BAB) sembarangan, tidak mencuci tangan sebelum makan dan bermain/bekerja di tanah tanpa pakai alas kaki.
Dalam kasus anak R di Kab. Sukabumi yang terinfeksi cacingan, kasus tersebut adalah kasus dengan jenis cacing gelang, karena jenis cacing ini ukurannya paling besar, sehingga bisa dilihat dengan mata biasa dan mudah dikenali dengan ukuran berkisar antara 10-35 cm.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kisah-pilu-balita-Raya-di-Sukabumi.jpg)