Sabtu, 30 Mei 2026

Wabah Ebola Terjadi Lagi, Epidemiolog Sarankan Indonesia Perlu Siaga Hadapi Risiko Impor dari Afrika

Wabah Ebola kembali terjadi di Afrika. .Laporan terbaru WHO,  tercatat 28 kasus dengan 16 kematian. Indonesia perlu waspada.

Tayang:
sehatnegeriku.kemkes.go.id.
Ilustrasi virus ebola menggunakan mikroskop. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA Wabah Ebola kembali terjadi di Afrika. .Laporan terbaru WHO,  tercatat 28 kasus dengan 16 kematian. 

Meski wabah terjadi jauh dari Indonesia, epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan potensi masuknya penyakit ini melalui jalur perjalanan internasional.

Baca juga: Waspada Virus Ebola Masuk ke Indonesia, Pemerintah Harus Perketat Pintu Masuk Bandara dan Pelabuhan

Menurutnya, risiko impor Ebola ke Indonesia tergolong rendah hingga menengah. 

Namun, hal ini tetap perlu dimitigasi dengan penguatan deteksi dini di pintu masuk negara. 

“Inkubasinya ya Ebola ini bisa 2 sampai 21 hari dan penumpang itu bisa asimptomatik saat tiba di negara termasuk di Indonesia,” jelas Dicky pada keterangannya, Kamis (11/9/2025). 


Tantangan Penanganan Global

Wabah Ebola di Afrika menghadapi tantangan besar, salah satunya keterbatasan pendanaan global untuk penyakit menular. 

Menurut Dicky, melemahnya dukungan internasional membuat penanganan semakin lambat, termasuk dalam hal logistik, vaksin, dan kesiapan tenaga medis.

WHO saat ini menggunakan strategi ring vaccination, yaitu pemberian vaksin kepada orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien. 

Baca juga: Gaza Kritis, Dilanda Wabah Penyakit Kulit Mematikan Hingga Ancam Nyawa Jutaan Pengungsi

Namun, jumlah dosis yang tersedia masih terbatas. Kondisi ini semakin memperbesar tantangan bagi negara miskin yang terdampak.


Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman (Dokumentasi Pribadi)

Dicky menekankan Indonesia sebagai negara dengan mobilitas tinggi harus memperkuat sistem surveilans.

Khususnya pada kasus demam dengan riwayat perjalanan ke Afrika Tengah.

Rumah sakit, klinik bandara, dan pelabuhan perlu diberi case definition sederhana agar tenaga medis cepat mengenali gejala Ebola.

Selain itu, koordinasi lintas sektor harus diperkuat. 

Mulai dari laboratorium, rumah sakit rujukan, hingga pelatihan tenaga medis dengan simulasi tabletop perlu dilakukan secara rutin. 

Hal ini penting agar alur penanganan pasien berjalan cepat dan aman.

Dicky menekankan pentingnya melindungi tenaga kesehatan. 

APD level tinggi harus tersedia, termasuk standar pemulasaran jenazah sesuai protokol. 

“Intinya yang tadi demam, kasus demam apalagi dengan riwayat perjalanan ke negara wabah terdampak nah mitigasi prioritas untuk Indonesia,” ujarnya.

Di tengah kewaspadaan, Dicky mengingatkan agar masyarakat tidak memberi stigma pada pelaku perjalanan dari Afrika. 

Komunikasi publik harus menekankan bahwa Ebola hanya menular melalui cairan tubuh, bukan udara. 

Edukasi yang tepat akan menjaga kewaspadaan tanpa menimbulkan diskriminasi.

Dengan penguatan sistem deteksi dini, perlindungan tenaga kesehatan, dan komunikasi publik yang transparan, Indonesia diharapkan siap menghadapi risiko impor penyakit menular global seperti Ebola.

 

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved