Kamis, 14 Mei 2026

Dua Mitos yang Sering Muncul tentang Kanker Tulang, Dokter Ungkap Fakta Sebenarnya 

Di balik penyakit kanker tulang, masyarakat masih banyak terjebak dalam mitos-mitos menyesatkan. 

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Febri Prasetyo
Freepik
KANKER TULANG - Warna simbolis pita kuning untuk kanker tulang sarkoma dengan latar belakang merah muda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kanker tulang dikenal sebagai salah satu jenis kanker yang paling menakutkan. 

Penyakit ini tidak hanya membuat tulang rapuh dan patah, tetapi juga bisa menyebar ke organ vital lain seperti paru-paru.

Namun sayangnya, di balik penyakit berbahaya ini, masyarakat masih banyak terjebak dalam mitos-mitos menyesatkan. 

Alih-alih mencari pertolongan medis, pasien justru menunda pengobatan karena percaya dengan informasi yang salah.

Setidaknya ada dua mitos yang masih beredar dan dipercaya oleh masyarakat. 

1. Mitos Biopsi Membuat Tumor Membesar

Spesialis orthopedi traumatologi konsultan onkologi Eka Hospital BSD, dr. Muhammad Wahyudi, Sp.OT(K) mengatakan salah satu mitos yang paling sering didengar adalah anggapan bahwa tumor akan makin besar setelah dilakukan biopsi.

“Mitosnya apa ya? Ya, kalau paling sering saya dengar itu, kalau habis dibiopsi, tumornya makin besar. Nah, itu yang paling saya sering,” ujar Wahyudi pada media briefing di Jakarta, Minggu (21/9/2025). 

Faktanya, kata dia, bukan biopsi yang menyebabkan tumor membesar. 

Tumor memang terus tumbuh secara alami, apalagi jika pasien menunda pengobatan medis yang sebenarnya.

2. Mitos Minuman Penyebab Kanker Tulang

Baca juga: Pasien Kanker Tulang di Tungkai Tak Harus Diamputasi, Dokter Beri Penjelasan

Mitos lain yang berkembang di masyarakat adalah keyakinan bahwa minuman tertentu bisa memicu kanker tulang, misalnya minuman soda atau minuman energi yang kerap dikonsumsi di daerah.

Namun menurut dr. Wahyudi, klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah. 

“Secara ini sih nggak ada hubungannya,” katanya.

Artinya, faktor konsumsi minuman tidak bisa secara langsung dikaitkan dengan munculnya kanker tulang.

Fakta Medis Kanker Tulang

Sebenarnya, penyebab kanker tulang hingga kini belum diketahui secara pasti. 

Ada kasus langka ketika kanker tulang terjadi akibat faktor genetik, misalnya pada penderita retinoblastoma yang mengalami defect gen RB.

Namun, sebagian besar kasus muncul secara sporadik. Artinya, ada mutasi genetik yang terjadi tiba-tiba pada usia tertentu, membuat sel tulang tumbuh tidak teratur hingga berubah menjadi kanker.

Inilah alasan kanker tulang tidak bisa dicegah sepenuhnya. Yang paling penting justru deteksi dini.

Gejala yang Sering Diabaikan

Sayangnya, gejala kanker tulang sering disalahartikan sebagai pegal biasa, rematik, atau nyeri setelah olahraga.

Baca juga: Ada Anggapan Pijatan Jadi Sebab Kanker Tulang? Ini Kata Dokter Ortopedi

Padahal, jika nyeri tulang berlangsung lebih dari 2-3 minggu tanpa perbaikan, hal itu bisa menjadi sinyal bahaya.

“Jadi kalau misalnya ada nyeri di tungkai, di alat gerak, 2-3 minggu tidak membaik, ya segera berobat,” kata dr. Wahyudi.

Menunda pengobatan hanya akan memperparah kondisi. 

Di Indonesia, banyak pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut, bahkan benjolannya sudah terlihat jelas dari luar.

Hal ini berbeda dengan negara maju yang para pasien biasanya datang sejak tumor masih kecil dan belum menyebar.

Semakin besar tumor, semakin sulit pasien disembuhkan. Bahkan, pasien bisa kehilangan tungkai karena amputasi demi menyelamatkan nyawa.

Mitos-mitos seputar kanker tulang terbukti berbahaya karena membuat pasien terlambat mendapat terapi. 

Hanya pemeriksaan medis seperti X-ray, MRI, dan biopsi yang bisa memastikan diagnosis.

Kuncinya adalah jangan menunda. Bila ada nyeri tulang persisten, segera cari tahu penyebabnya. Karena dalam kasus kanker tulang, waktu adalah penentu hidup dan mati.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved