Wabah Hantavirus
Waspada Virus Zoonosis: Hantavirus Jadi Bukti Nyata Ancaman Penyakit dari Hewan
Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menyebabkan dua sindrom utama pada manusia
Ringkasan Berita:
- Virus Hanta adalah infeksi langka dari tikus yang dapat merusak paru dan ginjal dan bisa fatal
- Gejala awal demam, nyeri otot, lalu beratnya sesak napas, gangguan ginjal, hingga syok
- Cegah dengan menjaga kebersihan lingkungan, hindari kontak dengan tikus atau sarangnya, dan segera periksa ke fasilitas kesehatan bila bergejala dan cari pertolongan medis
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Virus Hanta atau hantavirus kembali menjadi sorotan publik setelah muncul laporan kasus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar menuju Tenerife, Spanyol, di mana tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi tersebut.
Baca juga: Belajar dari Covid-19, Indonesia Kini Lebih Siap Hadapi Hantavirus
Meski tergolong penyakit langka, hantavirus kembali mengingatkan dunia bahwa ancaman penyakit zoonosis yang berasal dari hewan ke manusia masih menjadi risiko serius, terutama karena gejalanya sering tidak disadari sejak awal dan dapat berkembang cepat menjadi kondisi fatal yang menyerang paru-paru maupun ginjal.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menyebabkan dua sindrom utama pada manusia, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berdampak pada ginjal dan pembuluh darah dengan tingkat keparahan yang dapat meningkat drastis bila tidak ditangani secara cepat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Rio Yansen Cikutra menjelaskan bahwa penularan hantavirus paling sering terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi partikel dari urine, air liur atau kotoran tikus yang terinfeksi.
“Infeksi hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, kontak langsung dengan sarang tikus atau menyentuh permukaan terkontaminasi lalu menyentuh wajah juga meningkatkan risiko penularan,” ujarnya, Rabu(13/5/2026).
Ia menambahkan, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan tikus atau sarangnya, menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung, mata, atau mulut, hingga gigitan tikus. Meski sangat jarang, pada jenis tertentu seperti Andes hantavirus, penularan antarmanusia juga pernah dilaporkan.
“Pada jenis tertentu seperti Andes hantavirus, penularan antarmanusia dapat terjadi, meski sangat jarang ditemukan,” katanya.
Secara klinis, gejala infeksi hantavirus biasanya terbagi dalam dua fase. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam tinggi, sakit kepala berat, nyeri otot terutama di punggung dan paha, serta kelelahan ekstrem. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai penyakit biasa karena gejalanya mirip infeksi ringan pada umumnya.
“Pada tahap awal, penderita umumnya mengalami demam, sakit kepala hebat, nyeri otot terutama di punggung dan paha, serta kelelahan ekstrem,” jelasnya.
Namun pada fase lanjutan, kondisi dapat memburuk dengan cepat. Penderita bisa mengalami gangguan pernapasan berat seperti batuk dan sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru, disertai penurunan tekanan darah drastis (syok), gangguan ginjal, hingga perubahan warna kulit.
Sejumlah kondisi lingkungan disebut meningkatkan risiko paparan virus ini, seperti area dengan populasi tikus tinggi, gudang, bangunan tua, ruang tertutup yang lama tidak digunakan, lingkungan pertanian, hingga aktivitas luar ruang seperti berkemah di hutan. Sanitasi buruk dan pengelolaan sampah yang tidak baik juga menjadi faktor pendukung berkembangnya hewan pengerat.
Baca juga: Kemenkes Pastikan Kasus Hantavirus di Jakarta Terkendali, Kontak Erat Pasien Dipantau
Untuk pencegahan, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, serta menggunakan metode pembersihan basah agar debu tidak terhirup dan berpotensi membawa partikel virus.
“Jika mengalami demam tinggi disertai nyeri otot hebat setelah berada di lingkungan berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi berat,” tegasnya.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Margareth Aryani Santoso juga menekankan pentingnya respons cepat terhadap penyakit infeksi langka seperti hantavirus.
Ia mengingatkan bahwa peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit yang ditularkan hewan pengerat harus diikuti dengan kesiapan layanan kesehatan dalam melakukan deteksi dan penanganan dini.
Baca juga: Mengenal 41 Jenis Hantavirus: Virus Andes yang Menyebar di Kapal Pesiar, Seoul yang Ada di Indonesia
“Dengan meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit infeksi langka ini, masyarakat diimbau tetap menjaga kebersihan lingkungan dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala mencurigakan,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Foto-ilustrasi-hantavirus-yang-dibuat-dengan-AI.jpg)