Fenomena Langka! Nyamuk Ditemukan di Negeri Es, Sinyal Bahaya Pemanasan Global
Tiga ekor nyamuk jenis Culiseta annulata ditemukan di sebuah kebun di wilayah yang sangat dekat dengan Kutub Utara.
Ringkasan Berita:
- Islandia selama ini dikenal sebagai negeri tanpa nyamuk tak lagi berlaku.
- Tiga ekor nyamuk jenis Culiseta annulata, dua betina dan satu jantan ditemukan di sebuah kebun di wilayah yang sangat dekat dengan Kutub Utara.
- Ahli ungkap peringatan dini perubahan iklim yang nyata.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Islandia selama ini dikenal sebagai negeri tanpa nyamuk.
Namun laporan terbaru membuktikan sebaliknya.
Baca juga: 10 Negara dengan Spesies Nyamuk Terbanyak di Dunia, Indonesia Urutan Kedua
Tiga ekor nyamuk jenis Culiseta annulata, dua betina dan satu jantan ditemukan di sebuah kebun di wilayah yang sangat dekat dengan Kutub Utara.
Penemuan ini mengejutkan dunia sains. Bukan karena jumlahnya, melainkan karena lokasi ditemukannya, salah satu tempat paling dingin di bumi.
Ahli epidemiologi dan pakar keamanan kesehatan global, Dr. Dicky Budiman, menyebut fenomena ini sebagai “peringatan dini perubahan iklim yang nyata.”
“Penemuan nyamuk ini disebut The Last Fortress Has Fallen. Jadi menunjukkan bahwa perubahan iklim nyata. Karena nyamuk itu sangat sensitif dengan kehangatan suhu. Dia cepat bergerak ke arah situ,” ujar Dicky Budiman kepada Tribunnews, Rabu (22/10/2025).
Islandia Tak Lagi Jadi Wilayah Bebas Nyamuk
Dalam laporan resmi yang dikonfirmasi oleh ilmuwan di Islandia, temuan tersebut terjadi sekitar 6 kilometer dari sebuah pelabuhan. Dugaan kuat, serangga ini terbawa melalui kapal laut atau kontainer dari luar negeri.
“Dalam kasus ini dilaporkan ada dugaan nyamuk datang lewat kapal atau kontainer di pelabuhan. Jadi bicara globalisasi itu bukan hanya orang, tapi juga barang,” kata Dicky.
Baca juga: Mahasiswa Ciptakan Inovasi Digital Cegah Demam Berdarah, Pantau Jentik Nyamuk Melalui Aplikasi
Fenomena ini menunjukkan bahwa globalisasi bukan sekadar mobilitas manusia, tapi juga pergerakan organisme yang mungkin membawa penyakit baru.
Ia menilai, kejadian ini menandai titik baru dalam sejarah penyebaran vektor penyakit secara global.
Sinyal Bahaya dari Perubahan Iklim
Nyamuk dikenal sebagai spesies yang sangat sensitif terhadap suhu dan kelembapan.
Dicky menjelaskan, kemunculan Culiseta annulata di Islandia memperlihatkan bahwa suhu di wilayah ekstrem kini mulai menghangat.
“Selama ini Islandia dianggap tempat nyamuk nggak bisa hidup secara stabil atau sangat minimal. Tapi sekarang terbukti bisa ditemukan,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-nyamuk-dbd.jpg)