Sabtu, 18 April 2026

Side Hustle sampai Lupa Waktu? Ini Risiko Serius di Balik Kerja Lebih dari 12 Jam Sehari

Menambah jam kerja menjadi lebih dari 12 jam sehari berpotensi meningkatkan risiko penyakit.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Febri Prasetyo
Pexels.com
SIDE HUSTLE - Ilustrasi bekerja. Menambah jam kerja menjadi lebih dari 12 jam sehari karena adanya side hustle berpotensi meningkatkan risiko penyakit. 

Ringkasan Berita:
  • Melakukan pekerjaan sampingan atau side hustle memiliki risiko kesehatan.
  • Jika seseorang bekerja lebih dari 12 jam sehari, berbagai sistem dalam tubuh bisa terdampak.
  • Jam kerja berlebih terbukti meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tren side hustle atau melakukan kerja sampingan makin populer, terutama di kalangan anak muda. 

Banyak yang merasa semakin produktif dengan punya lebih dari satu pekerjaan. Namun, di balik itu ada risiko kesehatan yang sering tidak disadari.

Dokter sekaligus ahli kesehatan masyarakat, Dicky Budiman, mengingatkan bahwa kerja berlebihan bukan sekadar soal lelah biasa.

“Isu side hustle ini dengan jam kerja ekstrem, artinya lebih dari 12 jam sehari atau lebih dari 72 jam seminggu ini perlu dipahami sebagai paparan kronik terhadap stres fisiologis multisistem,” kata Dicky kepada Tribunnews, Jumat (17/4/2026). 

Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung pada berbagai sistem dalam tubuh.

Bukan Sekadar Capek, Ada Risiko Penyakit

Bekerja terlalu lama ternyata berkaitan dengan risiko penyakit serius.

Dalam berbagai studi, termasuk data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Labor Organization, jam kerja berlebih terbukti meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung.

Kondisi ini terjadi karena tubuh terus berada dalam kondisi stres, memicu tekanan darah tinggi, inflamasi, hingga gangguan pembuluh darah.

Tak hanya itu, dampaknya juga bisa menjalar ke metabolisme tubuh, mulai dari resistensi insulin, risiko diabetes tipe 2, hingga obesitas akibat gangguan hormon.

Fokus Turun, Produktivitas Ikut Jatuh

Ironisnya, kerja berlebihan justru bisa membuat seseorang tidak produktif. 

Hal ini karena fungsi otak ikut terganggu, mulai dari sulit fokus, daya ingat menurun, hingga kemampuan mengambil keputusan yang melemah.

Baca juga: 7 Keuntungan Jualan Pulsa Online sebagai Side Hustle

Kondisi ini juga berkaitan dengan burnout, yang kini sudah masuk dalam klasifikasi penyakit internasional.

Tubuh Punya Batas

Menurut Dicky, tubuh sebenarnya sudah memberi sinyal saat mulai kelelahan.

Namun banyak yang mengabaikannya demi mengejar target atau tambahan penghasilan. Padahal, jika terus dipaksakan, risikonya bisa semakin besar.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved