Dokter Ingatkan Bahaya Hipertensi Paru yang Sering Dikira Asma atau TBC
Kasus hipertensi paru atau tekanan darah tinggi sering terlambat terdeteksi di Indonesia karena sering dikira asma atau TBC.
Pada tahap berat, pasien bisa mengalami bibir membiru, batuk darah, irama jantung tidak teratur, hingga kematian mendadak.
Kelompok dengan Risiko Tinggi
Hary menyebutkan beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih besar mengalami hipertensi paru, yaknis ebagai berikut.
1. Perempuan dengan penyakit jantung bawaan
2. Pasien penyakit autoimun seperti lupus atau skleroderma
3. Penderita gangguan paru kronis termasuk TBC
4. Ibu hamil terutama pascapersalinan karena risiko terjadinya gumpalan darah
Baca juga: Kanker Paru di Indonesia Meningkat, Batuk Berkepanjangan hingga Dada Nyeri Sering Disepelekan
Ia menegaskan siapa pun yang mengalami sesak napas progresif, bahkan ketika hanya naik satu anak tangga, perlu segera memeriksakan diri.
Gejala seperti pusing, sering pingsan, atau bengkak pada tungkai harus diwaspadai sebagai tanda bahwa jantung kanan sudah tidak mampu memompa darah secara efektif.
Kesintasan Bisa Rendah jika Tidak Diobati
Hipertensi paru merupakan penyakit yang bersifat progresif.
Tanpa penanganan tepat, angka kesintasan pasien dalam tujuh tahun hanya sekitar 50 persen.
Kondisi ini mirip penyakit kronis berat lainnya, tetapi masih memiliki peluang baik bila ditangani agresif sejak awal.
Dengan meningkatnya data hipertensi paru di Indonesia hingga lebih dari 3.700 kasus pada 2023–2024, Hary menilai pentingnya edukasi publik.
Banyak pasien yang menunggu terlalu lama untuk memeriksakan diri atau hanya mendapatkan satu jenis obat, padahal kondisi tertentu memerlukan terapi kombinasi.
Ia berharap kesadaran masyarakat meningkat agar pasien dapat terdiagnosis lebih awal dan mendapat pengobatan yang tepat, sehingga peluang bertahan hidup semakin besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-paru-paru-bpjs-kesehatan.jpg)