Minggu, 19 April 2026

Banyak Anak Alami Obesitas hingga Gula Darah Tinggi, IDAI Soroti Peran Makanan Kemasan

Dengan langkah kecil namun konsisten orangtua dinilai dapat berkontribusi besar dalam mencegah penyakit akibat gaya hidup yang salah sejak usia dini.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
IST
MAKANAN INSTAN - Ilustrasi mi instan yang baru saja matang dan siap dimakan. 

Ringkasan Berita:
  • Makanan utuh atau real food dinilai sebagai fondasi terbaik untuk mendukung kesehatan anak secara menyeluruh.
  • Kesadaran memilih makanan, memahami label, serta membiasakan konsumsi makanan alami tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik anak.
  • Dengan langkah kecil namun konsisten, orang tua dinilai dapat berkontribusi besar.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kesadaran orang tua terhadap apa yang dikonsumsi anak dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga kualitas tumbuh kembang generasi muda. Di tengah maraknya makanan kemasan dan instan, mencermati label makanan kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Baca juga: Skema Pembagian MBG Selama Libur Sekolah, Siswa Dapat Makanan Kemasan Seharga Rp10 Ribu

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa pola konsumsi anak saat ini berkontribusi besar terhadap meningkatnya berbagai penyakit yang sebelumnya identik dengan usia dewasa.

“Sekarang ini terjadi peningkatan anak-anak dengan penyakit sindrom metabolik, obesitas, hipertensi, kemudian juga dislipidemia, hingga gula darah tinggi. Padahal mereka masih remaja. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh kandungan makanan dan juga gaya hidup yang tidak sehat,” ujar dr Piprim dalam media briefing virtual, Selasa (27/1/2026).

Fenomena meningkatnya sindrom metabolik pada anak menjadi alarm serius bagi orang tua dan tenaga kesehatan.

Kondisi tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari kebiasaan makan jangka panjang yang kerap luput dari perhatian.

Menurut dr Piprim, konsumsi makanan dengan kandungan gula, lemak, dan garam tinggi secara terus-menerus berpotensi membebani metabolisme tubuh anak.

Jika kebiasaan ini berlangsung sejak dini, dampaknya bisa muncul bahkan sebelum anak memasuki usia dewasa.

Mencermati label makanan bukan sekadar membaca angka, melainkan bentuk tanggung jawab orang tua dalam melindungi anak dari risiko penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

“Memilih dan mencermati label makanan anak adalah salah satu upaya orang tua untuk melindungi anak dari kemungkinan terdampak penyakit akibat gaya hidup. Penyakit-penyakit ini sebetulnya bisa dicegah,” ujarnya.

Langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu orang tua memahami kandungan makanan yang dikonsumsi anak, sekaligus mengontrol asupan yang berpotensi berdampak buruk dalam jangka panjang.

Baca juga: Audiensi ke BKKBN, Wakil Bupati Sumbawa Barat Sebut Makanan Cepat Saji Jadi Penyebab Stunting

Di tengah berbagai pilihan makanan modern, dr Piprim mengingatkan pentingnya kembali pada makanan alami.

Makanan utuh atau real food dinilai sebagai fondasi terbaik untuk mendukung kesehatan anak secara menyeluruh.

“Tentu saja real food adalah yang terbaik agar anak-anak kita dapat tumbuh dengan sehat,” lanjutnya.

Kesadaran memilih makanan, memahami label, serta membiasakan konsumsi makanan alami tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik anak saat ini, tetapi juga menentukan kualitas hidup mereka di masa depan.

Dengan langkah kecil namun konsisten, orang tua dinilai dapat berkontribusi besar dalam mencegah penyakit akibat gaya hidup sejak usia dini, dimulai dari apa yang tersaji di piring dan kemasan makanan anak setiap hari.

Baca juga: Jarang Dianggap, Ini yang Harus Dibaca Pada Label Makanan Kemasan

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved