Dokter Ingatkan Bahaya Hipertensi Paru yang Sering Dikira Asma atau TBC
Kasus hipertensi paru atau tekanan darah tinggi sering terlambat terdeteksi di Indonesia karena sering dikira asma atau TBC.
Ringkasan Berita:
- Hipertensi paru sering dikira sebagai penyakit asma atau tuberkolusis.
- Diagnosis hipertensi paru sering terlambat berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
- Beberapa kelompok orang lebih berisiko terjangkit hipertensi paru.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hipertensi paru atau tekanan darah tinggi di pembuluh darah paru menjadi salah satu kondisi yang sering terlambat terdeteksi di Indonesia.
Penyakit ini kerap disangka sebagai keluhan paru lain seperti asma atau bahkan tuberkulosis (TB) sehingga pasien baru terdiagnosis ketika kondisinya sudah berat.
Dokter pemerhati hipertensi paru, Hary Sakti Muliawan, Ph.D., Sp.JP, FIHA, menjelaskan bahwa hipertensi paru merupakan gangguan pada pembuluh darah yang menghubungkan jantung kanan ke paru-paru.
Gangguan ini menyebabkan tekanan menjadi sangat tinggi sehingga jantung kanan membesar dan tidak mampu memompa darah secara optimal.
Menurutnya, memahami perbedaan fungsi jantung kanan dan kiri menjadi kunci agar masyarakat tidak salah mengartikan penyakit ini.
Ia menggambarkan jantung sebagai organ kecil yang bekerja tanpa henti, memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh dan mengembalikan darah rendah oksigen ke paru-paru untuk ditukar kembali.
“Pembuluh darah yang mengalirkan dari jantung kanan ke paru-paru mengalami gangguan. Sehingga mengakibatkan tekanan yang tinggi, yang akan mengakibatkan jantungnya menjadi bengkak,” kata Hary pada diskusi media Bulan Kesadaran Hipertensi Paru 2025 yang diselenggarakan MSD Indonesia, Kamis (27/11/2025).
Sering Dianggap Asma atau TBC
Karena gejalanya mirip dengan gangguan paru umum, banyak pasien tidak menyadari bahwa sesak napas, cepat lelah, atau bengkak di kaki bisa menjadi tanda hipertensi paru.
Hal ini membuat diagnosis sering terlambat berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Hary mencontohkan data dari negara lain yang menunjukkan waktu rata-rata pasien baru terdiagnosis.
Baca juga: Dokter Spesialis Paru: Udara Bersih dan Iklim Sehat, Dua Kunci Cegah Pneumonia
Di Eropa bisa 15 bulan, Jepang sekitar sembilan bulan, dan Amerika Serikat mencapai dua tahun.
Ia memperkirakan Indonesia memerlukan waktu lebih lama karena rendahnya kewaspadaan terhadap penyakit ini.
“Saya kira mungkin kalau ditanya teman-teman hipertensi paru ini berapa, ada mungkin historisnya pernah diagnosis dengan TBC, sehingga diberikan obat TBC dulunya,” ungkapnya.
Terlambatnya diagnosis menyebabkan kondisi semakin parah.
Tekanan darah di pembuluh paru yang normalnya di bawah 20 mmHg bisa meningkat hingga menyamai tekanan sistemik, membuat jantung kanan bekerja lebih keras.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-paru-paru-bpjs-kesehatan.jpg)