Program Makan Bergizi Gratis
Menko Zulkifli Hasan: Ahli Gizi MBG Bisa dari Lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat
Konsumsi UPF jangka panjang bisa meningkatkan risiko berbagai problem kesehatan, karena disarankan untuk membatasi dan mengganti dengan makanan segar.
Ringkasan Berita:
- Sarjana non gizi bisa urus Program MBG
- Jurusan terkait pangan juga bisa
- Dokter gizi sekaligus aktivis media sosial, Tan Shot Yen, mengungkap ahli gizi dalam program MBG disebut masih fresh graduate atau baru lulus kuliah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah memperbolehkan ahli gizi di program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak harus berasal dari lulusan sarjana Ilmu Gizi. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang juga Ketua Tim Koordinasi Penyelenggaraan MBG, menyampaikan bahwa ahli gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat pula diisi oleh lulusan kesehatan masyarakat.
Baca juga: Mendes Yandri Tekankan Pentingnya Kopdes dan MBG sebagai Prioritas di Sulawesi Selatan
"Kalau ahli gizi nggak ada, boleh juga sih serjana kesehatan. Kan dia juga belajar gizi kan? Sama serjana apa satu lagi tadi? Kayak pangan gitu ya," kata Zulhas di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (3/12/2025).
Dalam kesempatan sama, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menjelaskan bahwa selain lulusan Ilmu Gizi, lulusan kesehatan masyarakat dan jurusan terkait pangan juga dapat menjadi ahli gizi MBG.
"Utamanya sarjana gizi, tapi sekarang boleh sarjana kesehatan masyarakat, sarjana teknologi pangan, sarjana pengolahan makanan, dan sarjana keamanan pangan," kata Dadan.
Perihal ahli gizi ini sempat menjadi sorotan pada akhir September 2025 lalu. Dokter gizi sekaligus aktivis media sosial, Tan Shot Yen, mengungkap ahli gizi dalam program MBG disebut masih fresh graduate atau baru lulus kuliah.
Fakta ahli gizi MBG yang statusnya baru lulus itu diketahui saat senior-seniornya mengecek langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Banyak masyarakat menanyakan, 'Dok, emang di SPPG nggak ada ahli gizi?' Ada, tapi setelah teman-teman kami yang lebih senior datang ke SPPG, Ya Allah ahli gizinya baru lulus," ungkapnya saat menghadiri rapat bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (22/9/2025).
Bahkan, kata dr Tan, para ahli gizi MBG yang baru lulus itu tidak tahu soal Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) saat ditanya.
HACCP merupakan sistem manajemen keamanan pangan berbasis ilmiah dan pencegahan, yang mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya keamanan pangan melalui penetapan titik kendali kritis dalam setiap tahap proses produksi.
Baca juga: Zulkifli Hasan Ogah Tanggapi Aksinya di Lokasi Bencana Banjir Sumatera yang Viral di Media Sosial
Sistem ini berfokus pada pencegahan kontaminasi untuk menjamin keamanan produk pangan bagi konsumen dan meningkatkan kepercayaan pasar.
Ia mengatakan, para ahli gizi yang baru lulus itu tidak tahu tentang HACPP karena belum memiliki banyak pengalaman atau jam terbang tinggi.
"Dan lebih lucu lagi, mereka nggak ngerti kalau ditanya apa itu HACCP, 'hah? HACCP hewan apa itu?' Loh ya ahli gizi ora ngerti (tidak tahu), ya emang jam terbangnya masih kurang. HACCP mereka nggak ngerti ya," paparnya.
Selain tak tahu soal HACCP, dr Tan juga menyebut ahli gizi itu tidak paham dengan Ultra-Processed Food (UPF).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menko-Zulhas-dan-Program-MBG-serta-ahli-gizi.jpg)