Jumat, 17 April 2026

Layanan HIV Banyak Terhenti, Komunitas Sebut 3 Kelompok Rentan Terdampak

Indonesia masih tertinggal jauh dari target global 95-95-95 mengakhiri HIV/AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030.

Penulis: Eko Sutriyanto
(ho/LAP)
KASUS HIV DI INDONESIA - Manajer Program dan Pengembangan Komunitas Lentera Anak Pelangi (LAP), Riama Siringo, S.Sos saat acara charity padel Swing for Action: Serve Up Resilience & Holiday Hope di Jakarta. Riama mengatakan, Indonesia masih tertinggal jauh dari target global 95-95-95 yang dicanangkan UNAIDS untuk mengakhiri HIV/AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030. Data terbaru, Indonesia baru mencapai 81-41-19, dengan hanya 19 persen orang dengan HIV yang berhasil menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi. 

Ringkasan Berita:
  • Indonesia jauh dari target UNAIDS 95-95-95 dengan capaian 81-41-19 dan hanya 19 persen ODHA mencapai supresi viral.
  • Penurunan dukungan sejak 2024 membuat banyak layanan HIV terhenti.
  • Lentera Anak Pelangi tetap mendampingi anak dan remaja rentan di lima provinsi.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia masih tertinggal jauh dari target global 95-95-95 yang dicanangkan UNAIDS untuk mengakhiri HIV/AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030. 

Berdasarkan data terbaru, Indonesia baru mencapai 81-41-19, dengan hanya 19 persen orang dengan HIV yang berhasil menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi (viral load suppression).

Baca juga: Dari Musik ke Aksi Sosial: Bongki Ismail Dukung IAC Hapus Stigma Orang dengan HIV/AIDS

Padahal, supresi viral merupakan indikator kunci untuk memutus penularan HIV (U=U/Undetectable = Untransmittable).

“Artinya hanya 19 persen orang yang hidup dengan HIV berhasil menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi—padahal capaian ini menjadi kunci menghentikan penularan,” ujar Riama Siringo, S.Sos, Manajer Program dan Pengembangan Komunitas Lentera Anak Pelangi (LAP) di sela acara charity padel Swing for Action: Serve Up Resilience & Holiday Hope di Jakarta di Jakarta belum lama ini.

Baca juga: Tanggal 1 Desember Diperingati Hari HIV AIDS Sedunia, Berikut Sejarah dan Kumpulan Ucapannya

Acara yang yang didukung Pusat Penelitian HIV AIDS Universitas Katolik Atma Jaya serta Prodigy Padel diadakan untuk mengajak komunitas dan masyarakat luas untuk meningkatkan kesadaran mengenai HIV.

Riama menjelaskan bahwa sejak menurunnya dukungan global dan nasional pada 2024, sejumlah layanan HIV yang dikelola pemerintah maupun LSM mengalami pemangkasan hingga penutupan.

Kondisi ini disebut berdampak besar pada kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan remaja yang belum menjadi fokus prioritas negara.

“Di tengah keterbatasan tersebut, Lentera Anak Pelangi menjadi salah satu organisasi yang tetap bertahan memberikan dukungan nyata,” katanya.

LAP merupakan organisasi yang menyediakan layanan multidisiplin untuk anak, remaja, dan keluarga dengan kerentanan ekonomi tinggi.

Selama 16 tahun, LAP menjalankan lima pilar program, mulai dari pendampingan rumah, dukungan gizi dan medis, dukungan psikososial, peningkatan kapasitas keluarga, hingga advokasi.

Hingga kini, LAP telah mendampingi lebih dari 300 keluarga dan memberi dampak kepada ribuan individu dalam ekosistem layanan komunitas.

Saat ini LAP mendukung 150 pengasuh, 50 remaja, dan lebih dari 70 anak yang hidup dengan HIV di lima provinsi.

Ajak Publik Peduli HIV

Melalui acara Swing for Action, LAP mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap isu HIV, terutama bagi anak dan remaja.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan booth edukasi HIV, pameran foto, serta Gift & Hope Tree berisi pesan solidaritas.

“Setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti besar bagi keberlangsungan hidup dan semangat keluarga dampingan,” ujar Riama.

Ia menegaskan bahwa anak dan remaja yang hidup dengan HIV berhak tumbuh sehat, dihargai, dan didukung, serta membutuhkan lingkungan yang inklusif dan bebas stigma.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved