Selasa, 19 Mei 2026

Laparoskopi Jadi Standar Modern Tangani Gangguan Ginekologi dan Dukung Bayi Tabung

Laparoskopi kini menjadi teknik bedah minimal invasif yang telah menjadi standar modern dalam penanganan berbagai kasus ginekologi.

Tayang:
HO/IST
MINIMAL INVASIF - Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Brawijaya Hospital Antasari, dr Lucky Satria, Sp.OG, Subsp. FER., mengatakan bahwa laparoskopi kini menjadi teknik bedah minimal invasif yang telah menjadi standar modern dalam penanganan berbagai kasus ginekologi. 

Ringkasan Berita:
  • Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Brawijaya Hospital Antasari, dr Lucky Satria, menyebut bedah laparoskopi kini menjadi standar modern penanganan kasus ginekologi.
  • Teknik minimal invasif ini menggunakan sayatan kecil sehingga nyeri lebih ringan dan pemulihan lebih cepat.
  • Laparoskopi juga berperan penting dalam menangani gangguan organ reproduksi seperti endometriosis dan penyumbatan saluran tuba guna meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung atau IVF.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Brawijaya Hospital Antasari, dr Lucky Satria, Sp.OG, Subsp. FER., mengatakan bahwa laparoskopi kini menjadi teknik bedah minimal invasif yang telah menjadi standar modern dalam penanganan berbagai kasus ginekologi.

Baca juga: Bedah Laparoskopi Bisa Jadi Alternatif Menyembuhkan GERD

“Laparoskopi merupakan teknik operasi dengan sayatan sangat kecil, sekitar satu sentimeter, sehingga trauma jaringan minimal, nyeri pascaoperasi lebih ringan, dan pemulihan pasien jauh lebih cepat,” ujar dr Lucky saat acara Comprehensive Obgyn Services yang mengulas layanan unggulan obstetri dan ginekologi, dengan fokus pada bedah laparoskopi serta perannya dalam meningkatkan keberhasilan program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).

Acara tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya dr Niken Pudji Pangastuti, Sp.OG KFER., dan dr Agatha Pradana, Sp.OG, M.Si.

Menurut dr Lucky, laparoskopi sangat bermanfaat untuk menangani berbagai kelainan pada organ reproduksi perempuan, termasuk gangguan saluran tuba, endometriosis, serta kondisi lain yang berpotensi menurunkan peluang implantasi embrio pada program IVF.

“Pada kasus tertentu seperti pembengkakan atau penyumbatan saluran tuba, kondisi tersebut perlu ditangani terlebih dahulu dengan laparoskopi agar peluang keberhasilan IVF dapat meningkat,” jelasnya.

Baca juga: Lebih Murah dari Bayi Tabung, Program IUI Jadi Harapan Baru untu Pejuang Garis Dua

Ia menambahkan, Brawijaya Hospital Antasari juga telah mampu melakukan bedah laparoskopi tingkat lanjut dan kompleks, salah satunya operasi endometriosis berat yang melibatkan organ lain di luar rahim, seperti usus dan saluran kemih.

“Kasus-kasus kompleks ini kami tangani secara multidisiplin dalam satu tindakan laparoskopi, melibatkan dokter kandungan, bedah digestif, hingga urologi,” kata dr Lucky.

Keunggulan lain dari laparoskopi adalah waktu pemulihan yang relatif singkat. Pasien umumnya sudah dapat pulang dalam waktu dua hingga tiga hari setelah operasi.

Dalam konteks fertilitas, dr Lucky menegaskan bahwa usia tetap menjadi faktor penting dalam keberhasilan IVF.

“Semakin muda usia pasien, peluang keberhasilannya semakin tinggi karena kualitas dan jumlah sel telur masih optimal. Di atas usia 45 tahun, tingkat keberhasilan hanya sekitar 5 persen,” ujarnya.

Meski demikian, setiap pasien tetap mendapatkan pendekatan menyeluruh, mulai dari perbaikan gaya hidup, pola makan, hingga manajemen stres.

Brawijaya Hospital Antasari mencatat tingkat keberhasilan IVF secara keseluruhan berada di kisaran 50 persen.

Capaian ini didukung oleh kesiapan fasilitas, teknologi laparoskopi yang mumpuni, serta pendekatan tim medis yang komprehensif.

“Kunci keberhasilan ada pada kerja tim, bukan hanya fokus pada pasien perempuan, tetapi juga evaluasi dan penanganan faktor dari pihak pria,” kata Lucky.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved