Seperti COVID-19, Super Flu Berbahaya Bagi Lansia dan Anak di Bawah 2 Tahun
Kemunculan super flu memantik kekhawatiran publik. Kasus super flu dalam skala tertentu dapat membuat fasilitas kesehatan kewalahan.
Ringkasan Berita:
- Super flu maupun COVID-19 memiliki kesamaan utama, yaitu sama-sama dapat menjadi ancaman serius ketika menyerang kelompok rentan
- Ancaman terbesarnya bukan pada nama penyakit, melainkan pada dampaknya terhadap tubuh kelompok berisiko
- lonjakan kasus super flu dalam skala tertentu dapat membuat fasilitas kesehatan kewalahan, bahkan di negara maju sekalipun
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perbandingan antara super flu dan COVID-19 kembali memantik kekhawatiran publik.
Di media sosial, super flu kerap disebut lebih berbahaya dari COVID-19 karena lonjakan kasus dan dampaknya terhadap layanan kesehatan di sejumlah negara.
Namun dokter sekaligus epidemiolog Dicky Budiman menegaskan, pertanyaan “mana yang lebih berbahaya” sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari siapa yang terinfeksi.
“Kalau bicara lebih berbahaya sebetulnya dua-duanya berbahaya pada kelompok yang berisiko tadinya. Kalau disebut mana yang lebih berbahaya sebetulnya ya sama saja,” tegas Dicky pada program Tribunnews On Focus di kanal YouTube Tribunnews, Selasa (6/12/2025).
Menurut Dicky, baik super flu maupun COVID-19 memiliki kesamaan utama, yaitu sama-sama dapat menjadi ancaman serius ketika menyerang kelompok rentan.
Baca juga: Viral Istilah Super Flu, Pakar Sebut Ini Bukan Flu Biasa, Tapi Juga Bukan Virus Baru
Lansia dan anak di bawah dua tahun berada pada posisi paling berisiko karena keterbatasan sistem imun dan fungsi pernapasan.
Pada bayi dan balita, saluran napas yang masih sempit membuat lendir dan ingus mudah menyumbat jalan napas.
Kondisi ini bisa memicu sesak hingga penurunan kadar oksigen yang berbahaya. Sementara pada lansia, daya tahan tubuh yang menurun membuat infeksi lebih mudah berkembang menjadi pneumonia.
Dalam konteks ini, super flu tidak berbeda dari COVID-19 maupun infeksi saluran pernapasan lain, baik yang disebabkan virus maupun bakteri.
Ancaman terbesarnya bukan pada nama penyakit, melainkan pada dampaknya terhadap tubuh kelompok berisiko.
Risiko Sistemik: Rumah Sakit Bisa Kewalahan
Perbedaan krusial antara super flu dan COVID-19 juga terlihat dari potensi dampaknya terhadap sistem kesehatan.
Dicky mengingatkan, lonjakan kasus super flu dalam skala tertentu dapat membuat fasilitas kesehatan kewalahan, bahkan di negara maju sekalipun.
“Kalau misalnya terjadi peningkatan kasusnya, misalnya katakanlah tidak mesti sampai setengah dari yang lansia ya, 20 persen saja dari lansia kita ini terinfeksi, kita akan kewalahan karena ini akan memerlukan oksigen, termasuk juga bicara ruang rawat di rumah sakit, itu tidak akan siap,” ujarnya.
Kondisi ini mengingatkan pada situasi awal pandemi COVID-19, ketika kebutuhan oksigen, ruang rawat, hingga obat-obatan melonjak drastis.