Fenomena El Nino ‘Godzilla’ Picu Risiko Penyakit, Ini Protokol Kesehatan yang Sebaiknya Dijalani
Fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki ‘Godzilla’ memicu berbagai risiko kesehatan.
Ringkasan Berita:
- Fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki ‘Godzilla’ memicu berbagai risiko kesehatan.
- Risiko kesehatan mengancam, mulai dari gangguan pernafasan hingga meningkatnya penularan penyakit menular.
- Kemenkes memberikan petunjuk protokol kesehatan yang harus dijalani.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan mengingatkan, fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki ‘Godzilla’ memicu berbagai risiko kesehatan mulai dari gangguan pernafasan hingga meningkatnya penularan penyakit menular.
Baca juga: Waspadai Kulit Kering di Tengah Cuaca Panas ‘El Nino Godzilla’ dan Paparan AC
Berikut panduan perlindungan diri untuk mengurangi dampak buruk di musim kemarau panjang seperti yang disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman, Senin (13/4).
”Peningkatan suhu dan perubahan lingkungan juga dapat memicu penyakit tular vektor serta serta memperburuk kualitas air dan sanitasi,” kata Aji.
1. Dengue
Demam Berdarah Dengue (DBD) yang berasal dari nyamuk dengue dan banyak berkembang biak pada genangan-genangan air. Saat musim kemarau diperkirakan akan meningkatkan frekuensi gigitan nyamuk. Sebab, nyamuk akan sering menggigit ketika suhu meningkat.
Pada sebuah penelitian, saat suhu 25 derajat celcius nyamuk menggigitnya 5 hari sekali.
Kemudian ketika suhu 20 derajat celcius, nyamuk akan menggigit 2 hari sekali.
Kondisi ini dapat meningkatkan potensi kasus terjadi saat Juli dan Agustus saat suhu udara tinggi
2. Malaria
Penyakit malaria disebabkan oleh infeksi parasit plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina, yang beredar pada petang sampai pagi hari. Parasit ini akan menetap di organ hati, berkembang biak, kemudian menyerang sel-sel darah merah. Malaria tidak ditularkan melalui kontak langsung dari orang ke orang, melainkan gigitan nyamuk
3. Diare
Diare adalah kondisi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan tinja lembek atau cair, yang dapat disertai darah atau lendir. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau parasit, dan umumnya menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi serta kebersihan diri dan lingkungan yang buruk.
4. Leptospirosis
Leptospirosis, penyakit ini dapat terjadi akibat bakteri leptospira yang menginfeksi manusia melalui kontak dengan air atau tanah yang masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir mata atau luka lecet pada bagian tubuh.
5. Kolera
Kolera adalah penyakit diare akut akibat infeksi bakteri Vibrio cholerae yang ditandai diare sangat encer seperti air cucian beras, muntah, dan dehidrasi cepat. Umumnya penularan melalui air atau makanan yang tercemar, sehingga pencegahan utama dilakukan dengan menjaga akses air bersih, sanitasi, dan higiene makanan.
6. Tifoid
Demam tifoid adalah infeksi sistemik akibat bakteri Salmonella Typhi yang umumnya menular melalui makanan atau minuman terkontaminasi. Penyakit ini berkaitan erat dengan rendahnya kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan, seperti kurangnya kebiasaan cuci tangan, akses air bersih, serta pengelolaan limbah yang tidak memadai.
“Fenomena El Nino termasuk yang ‘Godzilla’ yang memicu musim kemarau panjang dengan curah hujan rendah menyebabkan berkurangnya proses rain washing, sehingga polutan udara tidak tersapu hujan dan cenderung terakumulasi akibat udara stagnan, lapisan inversi, serta angin lemah, bahkan diperparah risiko kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap,” kata Aji.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-cuaca-panas-26.jpg)