Cacar Air Bisa Kambuh Jadi Cacar Api, IDAI Minta Orang Tua Waspada
Upaya pencegahan dinilai sangat penting untuk melindungi anak-anak, terutama mereka yang memiliki komorbid dan berisiko mengalami infeksi lebih berat.
Ringkasan Berita:
- Virus penyebab cacar air bukanlah virus baru dan tidak benar-benar hilang dari tubuh setelah seseorang dinyatakan sembuh
- Setelah menyebabkan infeksi primer berupa cacar air, virus ini dapat menetap di dalam tubuh dalam kondisi dorman atau “tidur” selama bertahun-tahun.
- penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi varicella. Diberikan mulai usia satu tahun, dua kali dosis, dan perlindungannya mencapai sekitar 99 persen
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Cacar air yang disebabkan oleh virus varicella zoster kerap dianggap sebagai penyakit ringan yang “wajar” dialami anak-anak. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Baca juga: Lonjakan Cacar Air Serang Anak-Anak di Tangsel! Rumah Sakit Mulai Kewalahan
Virus penyebab cacar air bukanlah virus baru dan tidak benar-benar hilang dari tubuh setelah seseorang dinyatakan sembuh. Dalam kondisi tertentu, virus ini justru dapat “bangun” kembali dan memicu penyakit lain yang lebih serius di kemudian hari, terutama saat daya tahan tubuh menurun.
Ketua Umum IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa virus varicella memiliki karakteristik unik. Setelah menyebabkan infeksi primer berupa cacar air, virus ini dapat menetap di dalam tubuh dalam kondisi dorman atau “tidur” selama bertahun-tahun.
“Sebetulnya virusnya ya itu-itu juga. Pada varicella ini terjadi infeksi primer, kemudian virusnya dorman. Nanti suatu ketika, misalnya saat usia lanjut atau daya tahan tubuh menurun, dia bisa muncul kembali sebagai Varicella-Zoster Virus (VZV),” ujar dr Piprim dalam media briefing virtual, Kamis (15/1/2025).
Reaktivasi virus tersebut dikenal sebagai herpes zoster atau cacar api, yang umumnya menyerang orang lanjut usia atau individu dengan sistem imun yang melemah.
Dr Piprim menegaskan bahwa varicella sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi. IDAI merekomendasikan imunisasi varicella diberikan mulai usia satu tahun dengan dua dosis.
“Alhamdulillah, penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi varicella. Diberikan mulai usia satu tahun, dua kali dosis, dan perlindungannya mencapai sekitar 99 persen,” jelasnya.
Tak hanya melindungi anak dari cacar air, imunisasi varicella juga berkontribusi menurunkan risiko terjadinya herpes zoster di kemudian hari, karena menekan kemungkinan virus menetap dan aktif kembali dalam tubuh.
Baca juga: Heboh Kasus Mpox di Riau, Kemenkes: Hasil Pemeriksaan Laboratorium Negatif, Pasien Terkena Cacar Air
Meski pada sebagian besar anak cacar air dapat berlangsung ringan, dr Piprim mengingatkan bahwa penyakit ini bisa berdampak lebih berat pada kelompok usia tertentu. Remaja, orang dewasa, serta anak-anak dengan penyakit penyerta atau komorbid memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.
“Pada anak-anak memang sering ringan, tapi pada remaja atau orang dewasa manifestasinya bisa lebih berat. Apalagi pada mereka yang memiliki komorbid, risikonya jauh lebih besar,” ujarnya.
Komplikasi varicella tidak bisa dianggap sepele. Dalam kasus tertentu, infeksi dapat memicu gangguan serius seperti peradangan otak, sehingga pencegahan menjadi langkah yang jauh lebih aman dibandingkan harus menghadapi risiko infeksi alami.
Dalam kesempatan tersebut, dr Piprim juga menyoroti praktik lama yang masih dijumpai di masyarakat, yakni sengaja “menularkan” cacar air dengan cara mengumpulkan anak-anak agar tertular bersamaan demi mendapatkan kekebalan.
Menurutnya, praktik ini berisiko dan tidak sejalan dengan prinsip kesehatan anak. “Memang betul, setelah kena varicella bisa kebal. Tapi risikonya, virus itu kemudian tidur di dalam tubuh. Saat lansia atau daya tahan turun, dia bisa muncul kembali sebagai herpes,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa kekebalan melalui imunisasi jauh lebih aman dibandingkan kekebalan akibat infeksi alami yang menyisakan risiko jangka panjang.
IDAI mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, untuk meningkatkan kesadaran terhadap imunisasi varicella. Penyakit ini bersifat menular, sementara vaksin yang efektif sudah tersedia dan terbukti aman.
Baca juga: SMPN 8 Tangsel Lumpuh Akibat Puluhan Siswa Terkena Cacar Air dan Gondongan, Ini Keterangan Kepsek
Upaya pencegahan dinilai sangat penting untuk melindungi anak-anak, terutama mereka yang memiliki komorbid dan berisiko mengalami infeksi lebih berat.
“Vaksinasi varicella tetap jauh lebih baik daripada anak terkena infeksi alaminya,” tegas dr Piprim.
Ia berharap cakupan imunisasi varicella di Indonesia terus meningkat agar anak-anak dapat tumbuh sehat, terlindungi sejak dini, dan terhindar dari risiko penyakit yang dapat muncul kembali di kemudian hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ketua-umum-idai-piprim-basarah-yanuarso1.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.