Virus Nipah
Virus Nipah Dinilai Sangat Berbahaya, Kemenkes Bakal Memperketat Cek Kesehatan di Bandara
Meskipun jumlah kasus virus Nipah secara global relatif kecil kewaspadaan harus dijaga karena angka kematian yang tinggi. Karena itu harus diperketat.
Ringkasan Berita:
- Meskipun jumlah kasus virus Nipah secara global relatif kecil, kewaspadaan tetap harus dijaga mengingat tingkat kematian yang tinggi.
- Kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia di bandara menjadi faktor penting dalam mendeteksi dini potensi penyakit menular dari luar negeri.
- Selain India, sejumlah negara lain juga meningkatkan pengawasan di pintu masuk, khususnya bandara internasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus memastikan hingga saat ini virus Nipah belum masuk ke Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena virus tersebut dikenal sangat berbahaya, memiliki tingkat infeksi yang tinggi, serta berisiko menimbulkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat.
Baca juga: Peneliti BRIN Ungkap Alasan Indonesia Harus Waspada pada Potensi Penularan Virus Nipah
Kementerian Kesehatan pun menegaskan pengawasan ketat di pintu masuk negara menjadi langkah utama untuk mencegah potensi penyebaran virus mematikan tersebut.
“Nipah kan itu terjadi di India dari bulan September tahun lalu. Ada dua kasus di India, tapi India tahu bahwa itu sangat infeksius dan mematikan,” kata Benjamin saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Benjamin menjelaskan, otoritas kesehatan di India langsung mengambil langkah tegas begitu kasus virus Nipah terdeteksi. Pemerintah setempat menerapkan pengendalian ketat guna mencegah penyebaran virus ke wilayah lain.
“Tapi virus Nipah itu langsung mereka melakukan lockdown kencang supaya jangan sampai lepas,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain India, sejumlah negara lain juga meningkatkan pengawasan di pintu masuk, khususnya bandara internasional.
“Kalau Thailand sangat kencang tuh di airport-nya. Tapi India pun sudah langsung memblok karena mereka kasusnya belum sampai 1.000 sih sejak tahun 1998. Jadi dia tidak seperti COVID, tapi kalau tertular sangat infeksius,” jelasnya.
Menurut Benjamin, hingga saat ini Indonesia masih berada dalam kondisi aman dari virus Nipah. Namun, ia menegaskan bahwa upaya pencegahan harus terus diperkuat.
“Tapi kita bersyukur sampai hari ini belum sampai Indonesia, moga-moga jangan sampailah, kalau tidak sudah bisa sangat mengganggu,” ucapnya.
Kementerian Kesehatan pun bakal terus memperketat pengawasan, terutama melalui sistem karantina kesehatan di pintu masuk negara.
Baca juga: Kenali Cara Penularan Virus Nipah, Bisa Dari Buah Aren yang Tidak Dimasak
“Iya, harus waspada. Oleh karena itu, memang controlling ketat itu paling penting. Jadi controlling ketat, maka karantina kesehatan kita harus kita perkuat,” katanya.
Benjamin mengungkapkan, ia secara rutin mengecek kesiapan Balai Karantina Kesehatan di berbagai bandara di Indonesia untuk memastikan sistem pengawasan berjalan optimal.
“Maka saya setiap ke airport di mana pun di Indonesia, saya selalu ke kita punya Balai Karantina Kesehatan. Saya mau cek di Cengkareng itu, di airport Soetta itu di setiap terminal ada, baik kedatangan maupun keberangkatan,” ujarnya.