Konflik Keluarga Denada
Mengenal PTSD Kondisi Mental yang Diduga Dialami Denada saat Ditanya Soal Ayah Kandung Ressa Rosanno
Siapa ayah biologis Ressa Rizky Rossano, anak yang baru diakui penyanyi Denada bak misteri. Denada disebut seperti mengalami PTSD saa ditanya.
"Tapi setiap kali saya mencoba membawa omongan itu ke kakak saya, kakak saya sangat amat sedih langsung. Seperti orang yang PTSD, langsung seperti orang yang mukanya sedih, campur marah, gak mau omongin," katanya.
"Seperti ada rasa sakit hari yang luar biasa, setiap saya mencari tahu siapa ayahnya," tambah dia.
Tentang PTSD
Merujuk pada beragam literatur kesehatan, PTSD atau Post-Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kesehatan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis yang sangat menekan seperti kecelakaan, bencana, kekerasan, atau kehilangan orang terdekat.
Kalau dikaitkan dengan cerita tentang Denada yang disebut oleh Enrico (adiknya), maksudnya adalah kondisi di mana seseorang mengalami dampak psikologis berkepanjangan akibat trauma besar dalam hidupnya.
Baca juga: Luka Fisik Bisa Sembuh, Tapi Korban Ponpes Al Khoziny Bisa Berisiko Alami PTSD
Bentuknya bisa berbeda-beda pada tiap orang, tapi umumnya menunjukkan ciri-ciri umum seperti
- Flashback dan mimpi buruk:
- Mengingat kembali kejadian traumatis seolah-olah sedang terjadi lagi.
- Hiperwaspada: Mudah terkejut, sulit merasa aman, selalu merasa cemas.
- Menghindari pemicu: Menjauhi tempat, orang, atau situasi yang mengingatkan pada trauma.
- Gangguan emosi: Perasaan sedih mendalam, marah, atau mati rasa secara emosional.
- Gangguan tidur & konsentrasi: Sulit tidur nyenyak, mudah lelah, dan sulit fokus.
Dalam kasus Denada, yang sering dibicarakan adalah trauma berat akibat pengalaman pribadi dan keluarga.
Enrico menyebut kondisi itu sebagai PTSD karena Denada mengalami tekanan psikologis yang sangat besar, sehingga wajar bila muncul gejala-gejala seperti di atas.
Jadi, PTSD merujuk pada kondisi mental di mana trauma masa lalu terus membekas dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pendekatan Penanganan PTSD, Perlukah Obat?
Penanganan PTSD ini ada beragam.
- Psikoterapi (Terapi Bicara).
- Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Membantu mengubah pola pikir negatif akibat trauma.
- Exposure Therapy: Secara bertahap menghadapkan pasien pada ingatan atau situasi yang memicu trauma, dalam kondisi aman, agar rasa takut berkurang.
- EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing): Terapi dengan gerakan mata untuk membantu otak memproses ulang pengalaman traumatis.
Lantas, perlukah kondisi PTSD ini mengonsumsi obat-obatan?
Dokter kadang meresepkan antidepresan atau obat anti-kecemasan untuk mengurangi gejala seperti insomnia, rasa cemas berlebihan, atau depresi.
Obat bukan solusi tunggal, biasanya dikombinasikan dengan terapi psikologis.
Dukungan Sosial
Peran keluarga, sahabat, atau komunitas sangat penting.
Memiliki orang yang mendengarkan tanpa menghakimi bisa membantu pemulihan.
(Tribunnews.com/Tribun Bogor)