Jangan Anggap Sepele GERD Pada Anak: Ganggu Asupan Nutrisi, Esofagus Rusak
Orangtua perlu mewaspadai penyakit refluks gastroesofageal atau gastroesophageal reflux disease (GERD) pada anak.
Pada fase ini, anak bisa menolak makan bukan karena gangguan asam lambung, melainkan karena faktor pola makan awal, kebiasaan, hingga aspek psikososial.
“Seringkali feeding difficulty itu dipikirkan menjadi GERD, sehingga diterapi sebagai GERD,” kata Prof. Badriul.
Ia menjelaskan, dalam praktik klinis, dokter perlu melihat adanya tanda bahaya atau alarm symptoms untuk memastikan apakah keluhan anak benar-benar mengarah pada GERD.
Jika tidak ditemukan bukti refluks disease, maka kemungkinan besar anak mengalami feeding difficulty yang membutuhkan pendekatan berbeda.
Prof. Badriul mengingatkan bahwa terapi GERD yang tidak memberikan respons juga harus menjadi sinyal bagi tenaga kesehatan dan orang tua untuk mengevaluasi ulang diagnosis.
Bisa jadi, permasalahan utama bukan pada sistem pencernaan, melainkan pada faktor sosial, emosional, atau pola asuh yang memengaruhi perilaku makan anak.
Dengan demikian, pemahaman yang tepat mengenai perbedaan GERD dan feeding difficulty menjadi kunci agar anak tidak mendapatkan terapi yang keliru.
Diagnosis yang akurat dan penanganan yang sesuai diharapkan dapat melindungi tumbuh kembang anak sekaligus mencegah dampak jangka panjang yang tidak diinginkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Prof-Badriul-Hegar-OK.jpg)