Kamis, 21 Mei 2026

Virus Nipah

Waspada Virus Nipah, Pakar UGM Jelaskan Pola Penularan dan Langkah Pencegahan

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang bersifat musiman dan berpotensi menular ke manusia, ini langkah pencegahan dari Pakar UGM.

Tayang:
Penulis: Lanny Latifah
Editor: Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS/AKBAR PERMANA
VIRUS NIPAH - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus memastikan hingga saat ini virus Nipah belum masuk ke Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena virus tersebut dikenal sangat berbahaya, memiliki tingkat infeksi yang tinggi, serta berisiko menimbulkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat. T 

"Di sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting," tambahnya.

PHBS Jadi Kunci Pencegahan Virus Nipah

Khrisdiana menyebutkan bahwa virus Nipah tergolong lemah dan mudah rusak di lingkungan, karena tidak mampu bertahan lama di luar inang.

Oleh karena itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dinilai sebagai langkah pencegahan yang efektif.

"Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri," tutupnya.

Baca juga: WHO: Satu Kematian Akibat Virus Nipah Terkonfirmasi di Bangladesh

Risiko Penularan ke Manusia dan Pentingnya Peringatan Dini

Sementara itu, Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, Heru Susetya, menuturkan bahwa secara epidemiologis kelelawar merupakan reservoir virus Nipah.

Oleh sebab itu, kewaspadaan terhadap wabah ini sebagai penyakit zoonosis perlu dilakukan secara serius.

"Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya," kata Heru.

Ia merunut sejarah kemunculan virus Nipah yang pertama kali terdeteksi di Malaysia, dengan pola penularan klasik dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia.

Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia.

Menurut Heru, hal ini dipengaruhi faktor lain, seperti konsumsi nira yang tidak ditangani dengan baik.

Di Indonesia, Heru menilai pentingnya keberadaan sistem peringatan dini (early warning system) terhadap penyakit zoonosis, termasuk virus Nipah.

Sistem ini penting agar setiap temuan gejala dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti.

"Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama," tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa solusi bukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, melainkan menghindari kontak langsung dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini, termasuk melaporkan jika terdapat hewan ternak yang menunjukkan gejala klinis tidak biasa.

"Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus," paparnya.

(Tribunnews.com/Latifah)

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved